Ratusan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Geografi, serta kelas karyawan sukses menyelenggarakan pergelaran akbar Ujian Akhir Semester (UAS) bertajuk CANDRIKA (Cahaya Nada Tari Karya). Mengusung tema “Kilau Cahaya Mengiringi Langkah, Nada, dan Karya”, acara ini berlangsung meriah selama dua hari berturut-turut pada tanggal 15 hingga 16 Juli 2026. Tercatat sebanyak 170 mahasiswa berkolaborasi memamerkan hasil pembelajaran praktis mereka. Pagelaran ini bukan sekadar pemenuhan nilai akademis semata, melainkan menjadi panggung apresiasi atas proses panjang, kerja keras, dan dedikasi mahasiswa selama satu semester penuh.

Perumusan konsep dan tema ini pun merupakan hasil kesepakatan bersama seluruh elemen mahasiswa. Mengingat kepanitiaan dibentuk dari perwakilan setiap kelas bukan berpusat pada Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) seluruh pihak mulai dari mahasiswa reguler PGSD, Geografi, hingga kelas karyawan turut andil dalam pengambilan keputusan. Sinergi lintas prodi dan pembagian sesi stan keterlibatan berbagai elemen mahasiswa ini membawa warna tersendiri pada pergelaran CANDRIKA. Nabila Mayfiavanti selaku ketua pelaksana, memberikan rincian mengenai pembagian peran para peserta dalam acara ini. “Ada kelas karyawan juga yang ikut. Untuk kelas karyawan, mereka ikut dalam penampilan seni musik dan seni tari. Sedangkan untuk prodi Geografi, mereka mengikuti seni musik dan prakarya,” jelas Nabila mahasiswa PGSD angkatan 2024.

Mahasiswa PGSD dan Pendidikan Geografi yang Melaksanakan UAS Seni Musik.

Selama dua hari pelaksanaan, para pengunjung dan dosen pengampu disuguhkan dengan berbagai kreativitas yang mencakup tiga domain seni utama, yaitu seni musik, seni tari, dan prakarya. Dalam bidang seni musik, mahasiswa unjuk gigi dalam memainkan berbagai instrumen secara berkelompok, mulai dari pianika, gitar, bas, hingga drum. Sementara pada domain prakarya, mahasiswa menampilkan beragam hasil produk kerajinan tangan hingga olahan makanan kreatif yang estetik dan bernilai guna. Begitu juga seni tari, menampilkan berbagai tarian seperti drama tari, tari tradisional serta kotemporer.

Nabila mengungkapkan bahwa konsep “Candrika: Cahaya Nada, Tari, dan Karya” ini terinspirasi dari tema-tema yang dibawakan oleh kakak tingkat mereka pada tahun-tahun sebelumnya. “Cahaya itu melambangkan bahwa setiap mahasiswa dari prodi PGSD memiliki cahaya masing-masing, yang kemudian dirangkum dan disajikan dalam bentuk tari, nada dalam musik, serta karya yang telah disajikan hari ini,” tutur Nabila mengenai filosofi mendalam di balik tema tersebut.

Pertunjukan UAS Seni Tari mahasiswa PGSD 2024.

Di tengah gempuran teknologi modern, pelaksanaan UAS berbasis praktik ini memanen pujian dari jajaran dosen pengampu. Seni dinilai sebagai satu-satunya ranah otentik manusia yang tidak akan pernah bisa dimanipulasi secara instan oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
“Mata kuliah seni ini harus ada proses. Tidak bisa dikerjakan dalam satu malam dengan menggunakan AI. Oleh karena itu, saya mohon dua hari ini Anda betul-betul memperhatikan, betul-betul mencari makna,” ujar perwakilan Dosen Pengampu Prakarya SD, Bapak Pangestu, saat memberikan sambutan hangat. Senada dengan hal tersebut, Bapak Andika selaku Dosen Pengampu Seni Musik menambahkan bahwa keahlian olah rasa dan praktik fisik yang diperoleh mahasiswa akan menjadi bekal berharga jangka panjang. “Menariknya di seni ini tidak bisa melalui ChatGPT. Karena semuanya butuh proses,” tuturnya.

Stand Prakarya Mahasiswa PGSD Kelas B 2024.

Apresiasi dan harapan tinggi juga datang dari pihak program studi. Ketua Program Studi PGSD, Ibu Dr. Farida Nur Kumala, menaruh harapan besar agar pengalaman memproduksi karya secara berkelompok ini mampu melekat kuat pada diri mahasiswa, terutama saat mereka terjun langsung menjadi pendidik kelak.
“Semoga nanti teman-teman dari kegiatan ini bisa mengembangkan kreativitas dan juga inovasi serta kolaborasi. Serta pemikiran kalian nanti ketika menjadi guru SD, yang nantinya juga menjadi agent of change untuk mengubah karakter dan juga budaya kita,” pungkas Ibu Farida sekaligus membuka acara secara resmi.
Pesan mengenai pentingnya esensi proses ini juga ditegaskan kembali oleh Nabila di akhir wawancaranya. Mewakili jajaran panitia selaku ketua pelaksana, ia berharap acara ini tidak sekadar mengejar hasil akhir yang tampak di permukaan.
“Harapannya, acara ini tidak hanya menghasilkan output atau luaran yang luar biasa saja. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana proses kita bersama selama satu bulan ini dalam merangkai dan menyiapkan acara besar ini,” tutup Nabila. Dengan diadakannya pergelaran CANDRIKA 2026 ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya membawa pulang nilai akhir yang baik, tetapi juga rasa percaya diri, jiwa kolaboratif, serta kepedulian yang tinggi terhadap pelestarian budaya bangsa.

Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) terus berkomitmen penuh dalam memacu kualitas pelayanan akademik di lingkungan kampus. Langkah strategis ini diwujudkan melalui dorongan nyata terhadap peningkatan kualifikasi pendidikan Tenaga Kependidikan (Tendik), yang kini disinergikan dengan penguatan sistem penilaian kinerja berbasis digital. Pihak SDM kampus menegaskan bahwa peningkatan jenjang pendidikan Tendik mulai dari SMA, D3, S1, hingga tingkat pascasarjana (S2/S3) akan berbanding lurus dengan perhatian kelembagaan terhadap aspek karier, tunjangan, dan apresiasi finansial. Evaluasi kualifikasi ini akan digelar secara periodik guna memastikan seluruh staf memiliki kapasitas yang relevan dalam menghadapi dinamika pendidikan tinggi.
“Karier, tunjangan, dan gaji Tendik ke depan akan sangat dipengaruhi oleh komitmen mereka dalam meningkatkan kualifikasi pendidikan. Kami di jajaran pimpinan kampus ingin memastikan setiap individu tidak hanya mandek di satu titik, melainkan terus berkembang, beradaptasi dengan kemajuan teknologi, serta mampu berkontribusi aktif dalam skala eksternal baik melalui pengelolaan website, tata kelola arsip modern, manajemen institusi, hingga mengambil peran strategis sebagai asesor profesional,” ujar Kepala Pusat Pengembangan SDM Unikama, Bapak Isa Anshori, S.Kom. MM.

Dalam upaya mewujudkan tata kelola kampus yang transparan, akuntabel, dan berbasis data, seluruh rekam kualifikasi serta kompetensi tendik saat ini mulai diintegrasikan secara bertahap ke dalam aplikasi SiPeka. Sistem digital ini nantinya akan terhubung langsung dengan Key Performance Indicator (KPI) masing-masing staf. Melalui integrasi ini, manajemen kampus menerapkan sistem pemeringkatan akun berbasis star rating 1 hingga 4 yang akumulasinya dihitung berdasarkan poin kompetensi yang berhasil diraih.

Pengembangan sistem digital ini merupakan langkah keberlanjutan dari fondasi yang sudah ada sebelumnya. Wakil Rektor II Unikama menjelaskan bahwa digitalisasi ini merupakan bentuk penyempurnaan sistem. “Kita sebenarnya di Unikama ini sudah ada aplikasi untuk penilaian kinerja secara kualitatif yang dikembangkan oleh pengelola dan manajemen sebelumnya, tetapi kami melihat bahwa apa yang sudah ada saat ini itu memang perlu untuk dikembangkan kembali,” ungkap Ibu Irma Tyasari, SE, S.Pd, MM, Ak, CA, CPA, CRA, Ph.D.

Sistem E-Presensi berbasis deteksi wajah pada SiPeka ditegaskan sebagai instrumen mutlak dalam menilai integritas dan profesionalisme kerja harian. Sejauh ini, kedisiplinan tendik Unikama menunjukkan tren yang sangat positif dengan tingkat kehadiran yang berhasil melampaui target yang ditetapkan.
“Presensi kehadiran melalui fitur deteksi wajah di SiPeka bukan sekadar pemenuhan formalitas administratif, melainkan cerminan mutlak dari integritas seorang aparatur sipil kampus. Kami sangat mengapresiasi kinerja luar biasa para Tendik yang saat ini tingkat kehadirannya sudah sangat baik, bahkan berada di atas target 70%. Jika masih ada staf yang menemui kendala teknis terkait perangkat gawai atau sistemnya, kami meminta untuk segera melapor ke bagian SDM agar dapat difasilitasi dan ditangani dengan cepat,” tambah Kapus SDM.

Hal senada juga dipertegas oleh Direktur SDM Ibu Dr. Lilik Sri Hariani, M.Ak. mengenai pentingnya aspek kehadiran fisik di lingkungan kampus yang berdampak luas bagi performa institusi. “Masalah kehadiran, karena ini juga penting sekali Bapak Ibu, kehadiran kita di sini. Kepentingan kita tidak hanya secara internal saja, tadi juga ada kaitannya kepentingan secara eksternal,” jelas Direktur SDM. Melalui akselerasi kualifikasi pendidikan, penguatan kompetensi digital yang terukur melalui star rating, serta komitmen kedisiplinan yang tinggi, Unikama optimis dapat terus menaikkan standar mutu layanan kelembagaan. Langkah transformatif ini diharapkan mampu membawa institusi melangkah lebih jauh sebagai kampus yang unggul, adaptif, dan berdaya saing tinggi di era digital.

LLDIKTI Wilayah VII Libatkan Perguruan Tinggi dalam Penyempurnaan Sistem Evaluasi Kinerja Dosen yang Berorientasi pada Dampak dan Integritas

Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) menjadi tuan rumah kegiatan Uji Petik Pengisian Pengukuran Kinerja Dosen Penerima Tunjangan Profesi dan Tunjangan Kehormatan bagi Perguruan Tinggi di Lingkungan LLDIKTI Wilayah VII pada Senin (13/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur dalam menyempurnakan sistem evaluasi kinerja dosen sekaligus memperkuat akuntabilitas penerima tunjangan profesi dan tunjangan kehormatan.

Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala LLDIKTI Wilayah VII, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., beserta tim Sistem Informasi LLDIKTI Wilayah VII. Turut hadir Rektor Unikama Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si., jajaran wakil rektor, dekan, ketua program studi, serta dosen penerima sertifikat pendidik dan tunjangan kehormatan dari berbagai perguruan tinggi di lingkungan LLDIKTI Wilayah VII.

Rektor Unikama, Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si. memberikan sambutan.

Dalam sambutannya, Rektor Unikama Prof. Dr. Sudi Dul Aji menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kepala LLDIKTI Wilayah VII beserta seluruh tim yang terus memberikan pendampingan kepada perguruan tinggi. Menurutnya, pembinaan tersebut menjadi langkah penting dalam meningkatkan tata kelola akademik, khususnya pada sistem evaluasi kinerja dosen.

“Kami merasa bersyukur di tengah kesibukan beliau, Prof. Dyah Sawitri berkenan hadir secara langsung di Unikama. Kehadiran beliau menjadi bentuk pembinaan yang sangat berarti bagi perguruan tinggi, terutama dalam penguatan sistem evaluasi kinerja dosen,” ujarnya.

Rektor Unikama menegaskan bahwa pengukuran kinerja dosen harus berjalan secara optimal melalui berbagai instrumen yang telah ditetapkan, seperti Beban Kerja Dosen (BKD) maupun Sasaran Kinerja Pegawai (SKP). Karena itu, seluruh peserta diharapkan mengikuti kegiatan uji petik dengan serius agar mampu memberikan masukan terhadap sistem yang sedang dikembangkan.

Menurutnya, pelaksanaan uji petik tidak hanya berfungsi sebagai proses pengujian aplikasi, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun sistem evaluasi yang lebih baik pada masa mendatang. Ia berharap dosen penerima sertifikasi pendidik maupun tunjangan kehormatan benar-benar mampu memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan mutu perguruan tinggi.

“Kegiatan ini masih dalam tahap uji petik. Namun, ke depan sistem ini diharapkan mampu memastikan bahwa dosen penerima tunjangan profesi dan tunjangan kehormatan benar-benar memberikan dampak terhadap pengembangan institusi,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah VII, Prof. Dr. Dyah Sawitri, SE., MM., menekankan bahwa pemerintah terus menunjukkan komitmen besar dalam meningkatkan kesejahteraan dosen melalui berbagai kebijakan yang berpihak kepada pengembangan sumber daya manusia. Karena itu, seluruh penerima tunjangan profesi harus menunjukkan tanggung jawab yang sebanding melalui peningkatan kualitas pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.

Kepala LLDIKTI Wilayah VII, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M. memberikan sambutan.

Prof. Dr. Dyah Sawitri, SE., MM., menjelaskan bahwa LLDIKTI Wilayah VII saat ini menyalurkan tunjangan profesi kepada ribuan dosen dengan nilai anggaran yang mencapai sekitar Rp55 miliar setiap bulan. Berdasarkan data tahun 2025 sebagai baseline pembayaran, tunjangan tersebut diberikan kepada 1.728 dosen dengan jabatan Asisten Ahli, 6.078 Lektor, 1.292 Lektor Kepala, dan 336 Guru Besar.

“Negara telah memberikan dukungan yang luar biasa kepada para dosen. Banyak kebijakan baru yang memberikan kemudahan, mulai dari penerima beasiswa yang tetap memperoleh tunjangan profesi selama memenuhi kewajiban tridarma hingga berbagai penyederhanaan persyaratan studi lanjut. Karena itu, kita harus menunjukkan komitmen dan tanggung jawab atas kepercayaan tersebut,” tegasnya.

Prof. Dr. Dyah Sawitri, SE., MM. juga mengungkapkan bahwa perubahan kebijakan terkait penyesuaian masa kerja dan jabatan fungsional berhasil meningkatkan nilai tunjangan profesi dosen secara nasional hingga mencapai ratusan miliar rupiah. Ia menjelaskan bahwa peningkatan tersebut dipengaruhi oleh penggunaan Surat Keputusan pertama kali sebagai dosen serta penyesuaian golongan yang lebih proporsional.

Namun demikian, ia mengingatkan seluruh dosen agar lebih cermat dalam mengunggah dokumen administrasi. Kesalahan pengisian data maupun unggahan dokumen sering kali menyebabkan perbedaan nominal pembayaran tunjangan yang sebenarnya berasal dari kekeliruan administrasi, bukan kesalahan sistem maupun LLDIKTI.

“Kita harus rasional dalam melihat persoalan. Jika terdapat perbedaan data atau pembayaran, mari telusuri terlebih dahulu penyebabnya. Banyak kasus terjadi karena kesalahan unggah dokumen. Jika mengalami kendala, silakan langsung berkonsultasi ke LLDIKTI, sehingga kami dapat membantu menyelesaikannya sebelum diteruskan ke kementerian,” jelasnya.

Peserta Uji Petik Pengisian Pengukuran Kinerja Dosen Penerima Tunjangan Profesi dan Tunjangan Kehormatan bagi Perguruan Tinggi di Lingkungan LLDIKTI Wilayah VII.

Selain membahas sistem pembayaran tunjangan profesi, Prof. Dr. Dyah Sawitri, SE., MM. juga mengajak perguruan tinggi untuk memperkuat budaya riset dan kolaborasi melalui berbagai program strategis yang disiapkan pemerintah. Ia mendorong dosen aktif mengajukan proposal dalam program Kosabangsa, Mahasiswa Berdampak, maupun Konsorsium agar hasil penelitian benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Prof. Dr. Dyah Sawitri, SE., MM. juga membuka peluang kolaborasi pendanaan antarpenguruan tinggi apabila proposal belum memperoleh dukungan dari pemerintah. Menurutnya, sinergi antarinstitusi akan memperkuat implementasi konsep Kampus Berdampak yang saat ini menjadi arah kebijakan pendidikan tinggi nasional.

“Perguruan tinggi harus terus berinovasi dan berkolaborasi. Ketika program belum memperoleh pendanaan pemerintah, perguruan tinggi dapat membangun konsorsium dengan kampus lain maupun mitra industri agar riset tetap berjalan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.

Di akhir sambutannya, Prof. Dr. Dyah Sawitri, SE., MM. mengajak seluruh dosen untuk terus menjaga integritas, meningkatkan kualitas tridarma, serta memanfaatkan sistem evaluasi kinerja sebagai instrumen pengembangan profesionalisme dosen. Ia optimistis penyempurnaan sistem pengukuran kinerja akan memperkuat tata kelola pendidikan tinggi yang lebih akuntabel, transparan, dan berorientasi pada dampak.

Kegiatan kemudian secara resmi dibuka oleh Kepala LLDIKTI Wilayah VII dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, sebagai penanda dimulainya pelaksanaan uji petik sistem evaluasi kinerja dosen penerima sertifikasi pendidik dan tunjangan kehormatan di lingkungan LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur. Melalui kegiatan ini, LLDIKTI bersama perguruan tinggi berharap dapat menghasilkan sistem pengukuran kinerja yang semakin akurat, adaptif, dan mampu mendorong peningkatan mutu dosen serta kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.

Malang – Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (UNIKAMA) kembali memperluas jejaring kerja sama internasional melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Foundation for Advancement of Science and Technology – National University of Computer and Emerging Sciences (FAST-NUCES), Pakistan. Seremoni penandatanganan dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Senin (6/7/2026) sebagai bentuk komitmen kedua institusi dalam memperkuat kolaborasi akademik di tingkat global.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Rektor UNIKAMA, Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si., dan Rector FAST-NUCES, Dr. Aftab Ahmad Maroof. Acara tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan kedua universitas, termasuk wakil rektor, dekan, ketua program studi, serta tim International Relations Office dari masing-masing institusi.

Pada kesempatan tersebut, Welcoming Remarks mewakili Rektor UNIKAMA disampaikan oleh Wakil Rektor II, Irma Tyasari, S.E., S.Pd., M.M., Ak., CA., CPA., CRA., Ph.D. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis UNIKAMA dalam memperluas jejaring internasional sekaligus memperkuat kualitas pendidikan tinggi melalui kolaborasi global. Menurutnya, kemitraan dengan FAST-NUCES diharapkan mampu membuka berbagai peluang kerja sama yang berdampak nyata bagi pengembangan tridarma perguruan tinggi, mulai dari pendidikan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat.

Sementara itu, Rector FAST-NUCES, Dr. Aftab Ahmad Maroof, menyampaikan apresiasi atas terjalinnya kemitraan dengan UNIKAMA. Beliau berharap kerja sama ini dapat menjadi awal dari berbagai program kolaboratif yang memberikan manfaat bagi sivitas akademika kedua universitas serta mempererat hubungan akademik antara Pakistan dan Indonesia.

Melalui penandatanganan MoU ini, kedua institusi berkomitmen mengembangkan berbagai bentuk kerja sama, antara lain penelitian bersama, publikasi ilmiah internasional, seminar dan konferensi akademik, pertukaran dosen dan mahasiswa, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, serta berbagai program internasional lainnya. Kesepakatan ini menjadi landasan bagi implementasi berbagai kegiatan akademik yang akan dituangkan dalam perjanjian kerja sama lanjutan sesuai kebutuhan kedua institusi.

Selain seremoni penandatanganan, kegiatan juga diisi dengan sesi pengenalan profil kedua universitas dan diskusi mengenai peluang implementasi program kerja sama dalam waktu dekat. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat, penuh semangat kolaborasi, serta mencerminkan komitmen bersama untuk membangun kemitraan akademik yang berkelanjutan.

Melalui kerja sama dengan FAST-NUCES, UNIKAMA kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring internasional sebagai bagian dari strategi internasionalisasi perguruan tinggi. Kemitraan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas kesempatan kolaborasi riset internasional, serta memberikan pengalaman akademik global bagi dosen dan mahasiswa kedua institusi, sekaligus memperkuat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Pakistan di bidang pendidikan tinggi.

Dalam tantangan globalisasi dan perubahan teknologi, Unikama berkomitmen untuk melahirkan generasi muda yang tidak hanya cakap secara digital tetapi juga kokoh secara kultural. Langkah nyata ini diwujudkan melalui penerapan metode etnopedagogi digital, sebuah pendekatan transformatif yang mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal ke dalam sistem pembelajaran berbasis digital.

Foto bersama pihak FIP dan Gaajayana TV Malang.

Dosen Pendidikan Geografi, Dr. Yuli Ifana Sari, M.Pd. mengungkapkan bahwa metode ini dirancang untuk menciptakan pembelajaran berdampak. “Pendidikan modern tidak boleh melepaskan mahasiswa dari akar budayanya. Melalui etnopedagogi digital, teknologi tidak mengikis tradisi, melainkan menjadi alat utama untuk menghidupkan dan melestarikan nilai-nilai luhur di ruang kelas masa kini,” ujarnya saat membuka lokakarya kurikulum terbaru.”

Menghidupkan nilai karakter di ruang etnopedagogi digital bertumpu pada rekonstruksi nilai-nilai non-benda yang terdapat di dalam kearifan lokal masyarakat. Nilai-nilai universal seperti gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, tanggung jawab sosial, kesederhanaan, toleransi, hingga penghormatan kepada orang tua dikemas ulang menggunakan media yang dekat dengan Generasi Z dan Alpha. Melalui pendekatan ini, mahasiswa didorong untuk memanfaatkan teknologi seperti pembuatan konten edukatif, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), platform pemetaan digital, hingga produksi siniar (podcast) untuk menyebarluaskan filosofi hidup selaras dengan alam dan sesama manusia.

Memupuk kepedulian terhadap ruang hidup adalah satu keunggulan utama dari etnopedagogi digital di lingkungan kampus adalah pergeseran dari metode hafalan teoretis ke aksi nyata. Mahasiswa tidak lagi sekadar mempelajari geografi, sosiologi, atau komunikasi sebatas peta fisik dan lokasi di atas kertas. “Etnopedagogi digital mengajarkan mahasiswa untuk peduli, menjaga, menghargai, dan bertanggung jawab terhadap tempat tinggal serta lingkungan lokal mereka,” tambah Dr. Arnelia Dwi Yasa, S.Pd., M.Pd. dosen PGSD.

Dengan mengombinasikan riset etnografi sederhana dan perangkat digital seperti Google Earth atau infografis interaktif, mahasiswa diajak memetakan kerentanan ekologis serta potensi kebudayaan yang ada di sekitar mereka. Hal ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa kepemilikan dan empati sosial yang tinggi. Jurang pemisah antara teori akademis di dalam kelas dan dinamika sosial di lapangan sering kali memicu kegagapan budaya culture shock bagi mahasiswa. Etnopedagogi digital hadir sebagai jembatan yang mengintegrasikan realita kehidupan masyarakat langsung ke dalam kurikulum perkuliahan.
Integrasi ini dirancang sebagai simulasi sekaligus pembekalan strategis bagi mahasiswa sebelum mereka diterjunkan langsung dalam program pengabdian masyarakat, seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mahasiswa dibekali kemampuan merancang program kerja berbasis digitalisasi desa yang tetap menghormati pranata sosial dan adat istiadat setempat. Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Bagi mahasiswa kependidikan, metode ini melatih mereka untuk menyusun modul ajar yang kontekstual, inklusif, dan menghargai latar belakang budaya para siswa di sekolah penempatan.

Mahasiswa yang mengikuti kegiatan podcast dengan tema Etnopedagogi Digital.

Sebagai wujud nyata dari pembelajaran berdampak, para mahasiswa kini tengah menggarap berbagai proyek berbasis Project-Based Learning (PJBL). Beberapa di antaranya meliputi pembuatan video dokumenter pendek bertema pahlawan lokal untuk media sosial, digitalisasi rute budaya desa, hingga pembuatan komik digital interaktif yang membawa pesan toleransi dan kesederhanaan. Dengan implementasi kurikulum berbasis etnopedagogi digital ini, Unikama menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi yang adaptif terhadap kemajuan teknologi, tanpa sedikit pun mengorbankan jati diri dan identitas moral bangsa.

Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) resmi membuka kegiatan pelatihan bertajuk “Membangun Kompetensi Guru Masa Depan Melalui Pembelajaran Coding dan Artificial Intelligence (AI)” bagi mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG). Acara yang bekerja sama dengan IBLU ini dibuka langsung oleh Kaprodi PPG Dr. Dyah Tri Wahyuningtyas, S.Si., M.Pd. dan Dekan FIP Dr. Cicilia Ika Rahayu Nita, M.Pd., dalam suasana penuh semangat.

Urgensi Coding dan AI bagi guru masa depan di era transformasi digital yang mengalami pertumbuhan pesat, penguasaan terhadap teknologi bukan lagi sekadar nilai tambah melainkan kebutuhan mutlak. Melalui pelatihan ini, Unikama menekankan bahwa pembelajaran coding dan AI menjadi pilar krusial dalam membangun kompetensi guru masa depan. ​”Kegiatan coding dan kecerdasan artifisial ini bukan sekadar keterampilan teknis saja, melainkan sarana untuk menumbuhkan kemampuan berpikir komputasional, pemecahan masalah, inovasi, serta etika dalam memanfaatkan teknologi.” ujar kaprodi ppg dalam sambutannya.

Guru masa depan tidak hanya dituntut untuk adaptif terhadap perkembangan zaman, tetapi juga harus mampu memadukan teknologi ke dalam proses belajar-mengajar. Namun, integrasi teknologi ini juga membawa tantangan moral yang besar. “Sayangnya sekarang praktik yang menerobos etik dalam penggunaan AI itu sudah menjadi hal yang biasa. Tanggung jawab kita bukan sekadar membuat siswa bisa memakai AI, tapi bagaimana agar tools ini bisa dipakai dengan bijak dan dipahami koridor-koridor etiknya,” ujar perwakilan IBLU Academy.

Pengenalan coding melatih para calon pendidik untuk berpikir logis, sistematis, dan solutif. Sementara itu, pemahaman mendalam mengenai Artificial Intelligence (AI) membekali guru agar mampu memanfaatkan kecerdasan buatan secara bijak dan baik untuk pembelajaran, personalisasi metode mengajar bagi siswa, maupun sebagai media pendukung kreativitas di dalam kelas. Proses ini lantas diibaratkan seperti meracik sebuah hidangan yang matang, di mana mahasiswa PPG berperan sebagai bahan baku utamanya. Membangun kompetensi guru masa depan itu tidak gampang. Ibarat membuat kue, ramuannya harus lengkap dan bahannya juga harus jelas. Kesiapan anda di dalam berproses belajar itu sangat kami butuhkan,” tegas Ibu Cicilia.

Meskipun teknologi menawarkan kecanggihan yang luar biasa, Ibu Cicilia juga menyoroti tantangan krusial terkait etika pemanfaatannya di kalangan mahasiswa saat ini. Ia mengingatkan agar para calon guru tidak terjebak pada budaya jalan pintas, seperti asal menyalin atau copy-paste tugas menggunakan AI tanpa memahami esensi data lapangan yang riil. Pihak Unikama berharap, lewat kolaborasi intensif dengan IBLU Academy yang dipimpin oleh Pak Hadis selaku manager beserta tim, pelatihan coding dan AI ini dapat melahirkan generasi pendidik hebat yang siap menjawab tantangan zaman.

Dosen Fakultas Peternakan Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Dr. Ir. Enike Dwi Kusumawati, S.Pt., M.P., IPM., kembali menunjukkan kiprahnya di tingkat nasional dengan menjadi Invited Speaker pada Seminar Nasional 2026 Universitas Ma Chung. Seminar yang mengangkat tema “Empowering National Informatics through Human-Centered Digital Intelligence” ini diselenggarakan pada Rabu (8/7/2026), dan menghadirkan akademisi, peneliti, praktisi, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk berbagi gagasan mengenai pemanfaatan teknologi dan kecerdasan digital dalam mendukung pembangunan di berbagai sektor.

Pada sesi Bidang Pengabdian kepada Masyarakat, Dr. Enike menyampaikan materi berjudul “Sustainable and Impactful Community Empowerment through Technology and Digital Intelligence”. Melalui pemaparannya, ia menekankan bahwa pengabdian kepada masyarakat perlu mengalami transformasi paradigma, dari sekadar pelaksanaan kegiatan menuju upaya menciptakan perubahan yang nyata, berkelanjutan, dan memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat.

Transformasi Paradigma Pengabdian kepada Masyarakat

Menurut Dr. Enike, tantangan utama pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat saat ini masih berkaitan dengan orientasi program yang bersifat jangka pendek, tingginya ketergantungan masyarakat terhadap pendamping, serta rendahnya keberlanjutan inovasi setelah program selesai dilaksanakan. Oleh karena itu, pengabdian perlu diarahkan pada pendekatan empowerment, yaitu membangun kapasitas masyarakat agar mampu mengenali permasalahannya sendiri, mengambil keputusan, mengelola sumber daya, memanfaatkan teknologi secara tepat, serta berkembang secara mandiri tanpa ketergantungan pada pendamping.

Paradigma baru ini juga menempatkan masyarakat sebagai mitra dalam proses pembangunan, bukan sekadar objek penerima manfaat. Perguruan tinggi berperan sebagai fasilitator yang mendampingi masyarakat dalam menciptakan solusi bersama melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis kebutuhan nyata.

Teknologi sebagai Sarana Pemberdayaan

Dalam presentasinya, Dr. Enike menjelaskan bahwa teknologi dan kecerdasan digital memiliki peran penting dalam mendukung pemberdayaan masyarakat. Teknologi mampu memperluas akses informasi, meningkatkan efisiensi, mempercepat komunikasi, memperluas pemasaran, meningkatkan transparansi, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Namun, Dr. Enike menegaskan bahwa teknologi bukanlah tujuan utama, melainkan instrumen untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat apabila dimanfaatkan secara tepat dan sesuai kebutuhan.

Pemanfaatan teknologi harus disertai dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar masyarakat mampu mengadopsi inovasi secara mandiri dan berkelanjutan. Dengan demikian, transformasi digital tidak hanya menghasilkan kemajuan teknologi, tetapi juga memperkuat daya saing masyarakat.

Implementasi Melalui Pengembangan Sentra Kambing dan Domba Malang

Sebagai contoh implementasi konsep tersebut, Dr. Enike memaparkan hasil penelitian dan pengabdian berkelanjutan yang dilaksanakan di Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, melalui program pengembangan Sentra Kambing dan Domba Malang. Program ini mencakup kajian potensi sumber daya peternakan, evaluasi penerapan teknologi inseminasi buatan, hingga analisis dampak sosial dan ekonomi terhadap masyarakat peternak. Hasil kajian tersebut menjadi dasar dalam merumuskan strategi pengembangan kawasan peternakan berbasis optimalisasi sumber daya lokal, peningkatan kapasitas peternak, modernisasi budidaya, serta penguatan kewirausahaan masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, pengabdian kepada masyarakat tidak hanya menghasilkan luaran berupa laporan atau publikasi ilmiah, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas, kesejahteraan peternak, serta terbentuknya ekosistem peternakan yang lebih berdaya saing.

Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Kegiatan

Lebih lanjut, Dr. Enike menekankan bahwa keberhasilan suatu program pengabdian tidak cukup diukur dari jumlah kegiatan yang terlaksana ataupun banyaknya peserta yang terlibat. Keberhasilan harus dilihat dari dampak nyata yang dihasilkan, seperti meningkatnya produktivitas masyarakat, pendapatan, literasi digital, kualitas pelayanan, tingkat adopsi teknologi, hingga keberlanjutan program setelah pendampingan berakhir. Pendekatan berbasis dampak tersebut dinilai mampu menghasilkan pemberdayaan masyarakat yang lebih efektif dan berkesinambungan.

Komitmen Unikama dalam Pengabdian Berkelanjutan

Keikutsertaan Dr. Enike sebagai narasumber pada Seminar Nasional 2026 Universitas Ma Chung menjadi bukti kontribusi aktif Fakultas Peternakan Unikama dalam pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di tingkat nasional. Partisipasi ini sekaligus memperkuat komitmen Unikama untuk terus mendorong kolaborasi lintas perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat serta mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi dan kecerdasan digital.

Menutup paparannya, Dr. Enike menyampaikan bahwa keberhasilan pemberdayaan masyarakat tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata, melainkan oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan dalam memanfaatkan teknologi secara inklusif, tepat guna, dan berkelanjutan. Perguruan tinggi, melalui pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, memiliki peran strategis sebagai jembatan yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat sehingga mampu menciptakan perubahan yang mandiri dan berdampak jangka panjang.

Kerja sama membuka peluang PKL, magang, riset, dan pengabdian masyarakat untuk memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) terus memperkuat jejaring kemitraan dengan berbagai instansi strategis. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) bersama Unit Pelaksana Teknis Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (UPT PT & HMT) Batu pada Selasa (7/7/2026). Melalui kerja sama ini, kedua institusi sepakat mengembangkan kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Dekan Fakultas Peternakan Unikama, Dr. Ir. Enike Dwi Kusumawati, S.Pt., M.P., mengatakan bahwa Fapet Unikama secara konsisten membangun sinergi dengan instansi pemerintah, dunia usaha, dan dunia industri agar mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih komprehensif. Menurutnya, kerja sama dengan UPT PT & HMT Batu menjadi langkah strategis karena lembaga tersebut memiliki fasilitas, sumber daya, dan program yang relevan dengan kebutuhan pembelajaran mahasiswa.

“Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori di ruang kelas. Mereka juga harus belajar langsung di lapangan agar mampu menghubungkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan dengan praktik di dunia kerja. Karena itu, kami terus menghadirkan mitra yang mampu mendukung proses pembelajaran secara nyata,” ujar Dr. Ir. Enike Dwi Kusumawati, S.Pt., M.P..

Dr. Ir. Enike Dwi Kusumawati, S.Pt., M.P. menjelaskan bahwa Fakultas Peternakan UNIKAMA mewajibkan mahasiswa menempuh mata kuliah Praktik Kerja Lapang (PKL) berbobot 4 SKS. Kebijakan tersebut mendorong fakultas untuk menyediakan lokasi praktik yang representatif sehingga mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan teknis, memperluas wawasan, sekaligus mengenal budaya kerja di sektor peternakan.

UPT PT & HMT Batu dinilai mampu menjawab kebutuhan tersebut. Sebagai unit teknis di bawah Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, UPT ini menjalankan berbagai program pembibitan dan pemuliaan sapi perah, pengembangan hijauan makanan ternak, penyediaan bibit ternak bermutu, hingga pelatihan, magang, dan penyuluhan bagi masyarakat. Beragam aktivitas tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari praktik yang berlangsung setiap hari.

Melalui MoU ini, Fapet UNIKAMA akan menempatkan mahasiswa dalam program PKL dan magang di UPT PT & HMT Batu. Mahasiswa dapat mengamati proses pembibitan sapi perah, mempelajari manajemen pakan, memahami pengelolaan hijauan makanan ternak, serta mengikuti berbagai aktivitas operasional yang mendukung peningkatan kompetensi mereka sebagai calon sarjana peternakan.

Selain memperkuat proses pembelajaran, kedua institusi juga akan mengembangkan kolaborasi penelitian. Dosen dan mahasiswa Fapet UNIKAMA dapat melaksanakan riset mengenai pembibitan sapi perah, hijauan makanan ternak, maupun pengembangan teknologi peternakan. Hasil penelitian tersebut diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat bagi dunia akademik sekaligus menjawab kebutuhan sektor peternakan.

Kerja sama ini juga memperluas ruang pengabdian kepada masyarakat. Dosen dan mahasiswa dapat berpartisipasi dalam berbagai pelatihan, workshop, maupun kegiatan penyuluhan yang diselenggarakan UPT PT & HMT Batu. Melalui kegiatan tersebut, sivitas akademika Fapet UNIKAMA dapat berbagi pengetahuan, mendampingi peternak, serta mendorong penerapan teknologi peternakan yang lebih efektif.

Dekan yang juga Dosen Fapet tersebut menambahkan bahwa kolaborasi ini memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Fapet Unikama memperoleh akses terhadap sarana praktik, data lapangan, serta fasilitas pembelajaran yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan. Sebaliknya, UPT PT & HMT Batu memperoleh dukungan sumber daya manusia, gagasan ilmiah, dan hasil penelitian yang dapat memperkuat pengembangan sektor peternakan.

“Melalui kerja sama ini kami ingin menciptakan hubungan yang saling menguatkan. Kampus menyediakan sumber daya akademik dan inovasi, sementara UPT menyediakan ruang belajar yang nyata bagi mahasiswa. Sinergi seperti inilah yang kami harapkan dapat meningkatkan kualitas lulusan sekaligus memberikan kontribusi bagi pembangunan peternakan di Indonesia,” pungkas Dr. Ir. Enike Dwi Kusumawati, S.Pt., M.P.

Aula Sarwakirti Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) dipenuhi antusiasme sivitas akademika dalam Orasi Kebangsaan yang digelar pada Selasa (7/7/2026). Mengusung tema demokrasi, supremasi hukum, dan kearifan lokal, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Prof. Yusril Ihza Mahendra, SH., M.Sc. tidak hanya berbicara mengenai konstitusi dan negara hukum. Ia justru membuka ruang yang lebih personal—mengenang perjalanan hidupnya dari sebuah pulau kecil di Bangka Belitung hingga menjadi salah satu pakar hukum tata negara Indonesia.

Di awal orasinya, Prof. Yusril mengaku merasa tema yang diangkat begitu dekat dengan perjalanan hidupnya. Berada di tengah sivitas akademika Unikama yang datang dari beragam latar belakang mengingatkannya pada lingkungan tempat ia dibesarkan, sebuah masyarakat yang sejak lama hidup dalam keberagaman. Dari sanalah, ia mulai membagikan kisah masa kecilnya di Bangka Belitung.

“Saya lahir dan tumbuh di lingkungan yang sangat majemuk,” kisahnya.

Ia menceritakan masa kecilnya di Bangka Belitung, wilayah yang dihuni masyarakat Melayu, Jawa, Madura, Sulawesi, hingga komunitas Tionghoa yang mencapai sekitar seperempat dari jumlah penduduk. Keberagaman itu bukan sekadar statistik, melainkan pengalaman sehari-hari yang membentuk karakter.

Orasi Kebangsaan oleh Prof. Yusril Ihza Mahendra, SH., M.Sc.

Sejak kecil, Prof. Yusril terbiasa menggunakan dua bahasa, yakni Melayu dan Mandarin. Ia juga tumbuh dalam budaya saling menghormati antar umat beragama dan antar etnis. Saat Idulfitri, keluarga saling mengirim makanan kepada tetangga berbeda keyakinan. Ketika Imlek tiba, tradisi saling berkunjung menjadi hal yang lumrah.

Pengalaman itulah yang menurutnya menjadi pelajaran pertama tentang demokrasi, toleransi, dan pentingnya mencari titik temu dalam setiap perbedaan.

Nasihat Sang Ayah yang Mengubah Jalan Hidup

Salah satu bagian yang paling menarik perhatian mahasiswa adalah cerita mengenai sosok ayahnya.

Prof. Yusril mengisahkan bahwa ayahnya merupakan aktivis Partai Masyumi. Meski aktif di dunia politik, sang ayah justru tidak mengarahkan putranya untuk mengambil jurusan ilmu politik saat kuliah.

Nasihat sederhana itu masih diingatnya hingga hari ini.

“Kalau kamu belajar politik, kamu tidak mengerti hukum. Tapi kalau kamu belajar hukum, kamu pasti ngerti politik.”

Kalimat tersebut menjadi penentu arah hidupnya.

Sang ayah percaya bahwa pemahaman hukum akan memberikan fondasi yang lebih kuat untuk memahami bagaimana negara dijalankan. Nasihat itu pula yang kemudian membawanya memilih Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Dalam perjalanan intelektualnya, Prof. Yusril juga banyak terinspirasi oleh tokoh-tokoh seperti Syafruddin Prawiranegara dan Mohammad Roem yang dikenal mengedepankan dialog, kompromi, serta kemampuan mencari jalan tengah di tengah perbedaan pandangan politik.

Pernah “Ciut” Saat Pertama Kali Menginjak Jakarta

Di balik karier panjang sebagai akademisi, menteri, hingga pakar hukum tata negara, Prof. Yusril mengaku pernah merasakan ketakutan yang mungkin juga dirasakan banyak mahasiswa baru.

Ia mengenang momen ketika pertama kali datang ke Jakarta untuk mengikuti tes masuk Universitas Indonesia.

Berasal dari pulau kecil, ibu kota terasa begitu besar dan asing. Melihat keramaian Jakarta, ia mengaku sempat merasa “ciut”. Perasaan minder dan tidak percaya diri sempat muncul karena harus bersaing dengan peserta dari berbagai daerah.

Namun, rasa takut itu tidak membuatnya menyerah.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa setiap orang besar pernah berada di titik yang sama: merasa kecil ketika memasuki lingkungan baru. Yang membedakan adalah keberanian untuk tetap melangkah.

Pesan itu terasa relevan bagi mahasiswa baru yang sedang memulai perjalanan akademiknya di perguruan tinggi.

Demokrasi Berawal dari Cara Kita Hidup Bersama

Beranjak dari kisah pribadinya, Prof. Yusril kemudian membawa audiens pada pembahasan mengenai demokrasi, supremasi hukum, dan sejarah konstitusi Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa bangsa Indonesia sejak awal dibangun melalui kompromi, bukan kemenangan satu kelompok atas kelompok lain. Perdebatan mengenai dasar negara pada 1945 menjadi contoh bagaimana para pendiri bangsa memilih jalan musyawarah demi menjaga persatuan.

Orasi Kebangsaan oleh Prof. Yusril Ihza Mahendra, SH., M.Sc.

Menurutnya, semangat mencari titik temu harus terus dijaga hingga hari ini, terlebih di tengah derasnya arus informasi digital yang sering memicu polarisasi.

Ia mengingatkan bahwa demokrasi bukan hanya soal pemilu, melainkan juga kemampuan masyarakat berdialog dengan sehat, menghargai perbedaan pendapat, serta tidak mudah menghakimi hanya berdasarkan potongan informasi di media sosial.

Prof. Yusril bahkan mencontohkan kedewasaan politik generasi terdahulu. Tokoh seperti Mohammad Natsir dan D.N. Aidit dapat berdebat keras di parlemen, tetapi tetap menjaga hubungan pribadi dengan baik di luar ruang sidang.

Hukum Harus Ditopang Etika

Dalam orasinya, Prof. Yusril juga menegaskan bahwa negara hukum tidak akan berjalan baik tanpa fondasi etika.

Ia mengulas perjalanan panjang reformasi hukum Indonesia, mulai dari penyusunan regulasi antikorupsi, pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hingga lahirnya Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

Menurutnya, persoalan utama Indonesia saat ini bukan lagi kekurangan aturan hukum.

Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah membangun etika peradaban agar hukum benar-benar dijalankan dengan integritas.

Ia juga menjelaskan bahwa KUHP Nasional yang baru telah meninggalkan paradigma kolonial dengan mengakomodasi nilai-nilai hukum adat, hukum pidana Islam, hukum Belanda yang telah berasimilasi, serta berbagai konvensi internasional.

Optimisme Menuju Indonesia Emas 2045

Menutup orasi kebangsaannya, Prof. Yusril menyampaikan optimisme terhadap masa depan Indonesia.

Ia menilai Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan sumber daya alam dan posisi geografis yang strategis. Namun, generasi muda harus memperkuat penguasaan sains, manajemen, dan pemasaran agar potensi tersebut benar-benar menghasilkan kemajuan.

Prof. yusril juga mengingatkan pentingnya menjaga politik luar negeri bebas aktif sebagaimana filosofi Bung Hatta, “mendayung di antara dua karang”, agar Indonesia tetap mampu berdiri mandiri di tengah persaingan kekuatan global.

Bagi mahasiswa Unikama, orasi tersebut bukan hanya kuliah tentang hukum tata negara. Kisah seorang anak dari pulau kecil yang pernah merasa minder saat pertama kali menginjak Jakarta, tetapi kemudian mampu menembus panggung nasional, menjadi pesan paling kuat bahwa latar belakang bukanlah batas untuk meraih cita-cita.

Perjalanan Prof. Yusril menunjukkan bahwa keberanian belajar, keterbukaan terhadap keberagaman, dan kemauan memegang teguh nilai-nilai etika dapat menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam membangun Indonesia menuju 2045.

Unikama – Peresmian Pusat Kajian Konstitusi dan Demokrasi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) oleh Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan RI, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc., menjadi momentum penting dalam memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan pemikiran kebangsaan. Kehadiran tokoh nasional tersebut sekaligus menandai komitmen Unikama dalam menghadirkan ruang akademik yang berkontribusi bagi penguatan demokrasi dan supremasi hukum di Indonesia.

Momentum tersebut juga mendapat apresiasi dari Ketua Yayasan PPLP PT PGRI Malang, Drs. Agus Priyono, M.M. Menurutnya, dukungan dan kehadiran Prof. Yusril dalam meresmikan pusat kajian menjadi semangat baru bagi Unikama untuk terus mengembangkan tradisi akademik yang melahirkan pemikiran-pemikiran strategis bagi kemajuan bangsa.

Agus Priyono mengatakan, Yayasan PPLP PT PGRI Malang memiliki harapan besar agar Pusat Kajian Konstitusi dan Demokrasi tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga berkembang sebagai pusat pemikiran (think tank) yang mampu menghasilkan penelitian dan rekomendasi kebijakan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Harapan kami, Pusat Kajian Konstitusi dan Demokrasi tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi berkembang menjadi pusat pemikiran (think tank) yang mampu melahirkan gagasan, penelitian, dan rekomendasi kebijakan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan bangsa. Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, kami ingin pusat kajian ini dikenal sebagai salah satu rujukan akademik dalam isu konstitusi, demokrasi, dan tata kelola pemerintahan, baik di tingkat regional maupun nasional. Sebagai perguruan tinggi, Unikama memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan pemikiran yang objektif, ilmiah, dan solutif dalam menjawab berbagai tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Ia menambahkan, pesan yang disampaikan Prof. Yusril Ihza Mahendra dalam Orasi Kebangsaan mengenai pentingnya menjaga demokrasi yang berlandaskan konstitusi serta nilai-nilai kearifan lokal sejalan dengan arah pengembangan Pusat Kajian Konstitusi dan Demokrasi Unikama. Karena itu, Yayasan berkomitmen mendukung berbagai program akademik yang akan dijalankan pusat kajian agar mampu menghasilkan riset, publikasi ilmiah, hingga rekomendasi kebijakan yang berdampak bagi masyarakat.

Menurut Agus Priyono, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai penjaga nalar kritis sekaligus pengembang ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, keberadaan pusat kajian menjadi sangat penting agar kampus tidak hanya berfokus pada proses pembelajaran, tetapi juga aktif mengkaji berbagai persoalan kebangsaan secara ilmiah.

“Perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai penjaga nalar kritis sekaligus pengembang ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, keberadaan pusat kajian menjadi sangat penting agar kampus tidak hanya menjalankan proses pembelajaran, tetapi juga aktif mengkaji berbagai persoalan kebangsaan secara ilmiah. Isu konstitusi dan demokrasi merupakan fondasi kehidupan bernegara yang akan terus berkembang mengikuti dinamika zaman. Kehadiran pusat kajian memungkinkan para akademisi, mahasiswa, praktisi, dan berbagai pemangku kepentingan berdialog, melakukan riset, serta menghasilkan pemikiran yang dapat memperkuat kualitas demokrasi Indonesia dengan tetap berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan kearifan lokal,” jelasnya.

Lebih lanjut, Agus Priyono menegaskan bahwa Pusat Kajian Konstitusi dan Demokrasi juga diharapkan menjadi penguat pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, pusat kajian akan menjadi ruang kolaboratif yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian dalam satu ekosistem akademik yang saling mendukung. Berbagai riset multidisiplin mengenai konstitusi, demokrasi, hukum, hingga kebijakan publik diharapkan lahir dari pusat kajian ini, kemudian diterjemahkan menjadi program edukasi, pendampingan, seminar, maupun forum diskusi yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

“Pusat kajian ini akan menjadi wadah yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dari sisi penelitian, kami berharap lahir berbagai riset multidisiplin yang membahas isu-isu konstitusi, demokrasi, hukum, maupun kebijakan publik. Sementara pada aspek pengabdian, hasil-hasil penelitian tersebut dapat diterjemahkan menjadi program edukasi, pendampingan, seminar, maupun forum diskusi yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Dengan demikian, Tridarma Perguruan Tinggi tidak berhenti pada aktivitas akademik semata, tetapi mampu menghasilkan kontribusi nyata bagi pembangunan kehidupan demokrasi yang lebih berkualitas,” tutupnya.

Melalui dukungan Yayasan PPLP PT PGRI Malang serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, Pusat Kajian Konstitusi dan Demokrasi Unikama diharapkan terus berkembang sebagai pusat kolaborasi akademik yang menghasilkan penelitian berkualitas, memperkuat budaya demokrasi yang beretika, serta memberikan rekomendasi kebijakan yang berkontribusi bagi pembangunan hukum dan ketatanegaraan Indonesia.

WhatsApp