Malang, 28 Agustus 2026 – Suasana Masjid Alfarabi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) pada Jumat siang ini terasa berbeda. Kehangatan ukhuwah tidak hanya terpancar dari civitas akademika kampus, tetapi juga dari siswa – siswi SMK PGRI 7 Singhasari dan SMA PGRI 6 Kota Malang. Mereka hadir berdampingan, menyatu dalam satu ruang untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1448 H dengan tema yang menyasar jantung generasi masa kini: “Menjadi Generasi Z (Gen Z) yang Tetap Berakhlakul Karimah Ala Rasulullah SAW”.
Kajian Spesial: Ustadz Ali Akbar Bin Aqil Hadir di Tengah Pelajar dan Civitas Akademika
Berbeda dengan peringatan tahun-tahun sebelumnya yang hanya melibatkan internal kampus, acara kali ini sengaja membuka pintu selebar-lebarnya untuk kolaborasi antar satuan pendidikan di bawah naungan PGRI . Hadir dalam kajian spesial ini para pimpinan jajaran Rektorat Unikama, perwakilan PPLP-PT PGRI Malang, para dosen dan guru serta mahasiswa yang turut menghangatkan suasana pada pagi hari ini di Masjid Alfarabi.
Puncak acara dimeriahkan oleh tausiyah yang disampaikan langsung oleh Ustadz Ali Akbar Bin Aqil. Dengan gaya penyampaian yang lugas dan menyentuh, sang penceramah mengajak para hadirin untuk merenungi bagaimana akhlak Nabi Muhammad SAW menjadi pondasi utama, terutama di tengah derasnya arus digital yang kini menjadi keseharian Generasi Z.
Meneladani Rasulullah di Era Disrupsi: Tantangan dan Peluang
Dalam kajiannya, Ustadz Ali Akbar Bin Aqil mengupas tuntas relevansi sifat-sifat Nabi di tengah gempuran informasi dan perubahan sosial yang cepat. Beliau menekankan bahwa menjadi generasi berakhlak bukan berarti ketinggalan zaman, melainkan justru menjadi filter bagi budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.
“Generasi Z adalah generasi yang melek teknologi dan penuh kreativitas. Namun, tanpa pegangan akhlak yang kuat, potensi besar ini bisa melenceng. Rasulullah telah memberi teladan sempurna; bagaimana bersikap jujur, amanah, dan bijak dalam bermedia sosial,” ujar Ustadz Ali Akbar di hadapan peserta.
Ustadz Ali Akbar saat menyampaikan kajian (doc.humas)
Kolaborasi Lintas Generasi: Membangun Karakter dari Bangku Sekolah Hingga Kampus
Kehadiran siswa-siswi dari SMK PGRI 7 Singhasari yang juga dikenal sebagai SMK Laboratorium Unikama serta SMA PGRI 6 ini menjadi simbol nyata sinergi dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkarakter. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari dinamika keilmuan yang dibangun di lingkungan kampus.
Menghidupkan Semangat Kebersamaan dan Silaturahmi Akademik
Menurut Dr. Choirul Huda, M.Si. dalam sambutannya menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk menjembatani pendidikan menengah dan perguruan tinggi. Kegiatan seperti ini diharapkan dapat memupuk rasa kebersamaan dan memberikan teladan langsung bagi para pelajar tentang pentingnya menuntut ilmu dengan niat dan akhlak yang baik.
“Kami ingin anak-anak melihat bahwa belajar itu tidak hanya berhenti di kelas. Mereka bisa melihat bagaimana nilai-nilai Islam diimplementasikan di lingkungan kampus. Ini adalah investasi untuk melahirkan generasi emas yang berakhlak,” ujarnya.
Penyampaian Dr. Choirul Huda saat sambutan (doc.humas)
Merawat Ukhuwah: Peringatan yang Menginspirasi
Acara yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan doa dan pembacaan sholawat bersama, menandai kebersamaan yang mendalam antara Unikama, SMK PGRI 7, dan SMA PGRI 6. Dengan mengusung tema akhlak, peringatan Maulid Nabi kali ini menjadi lebih dari sekadar seremonial; ia menjadi panggung bagi penguatan karakter bangsa yang berlandaskan nilai-nilai agung Rasulullah SAW.
Malang, Pakisaji – Di tengah gempuran ekonomi digital, banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di pelosok desa masih gamang beradaptasi. Namun, angin segar bertiup di Desa Glanggang, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Sebanyak 618 mahasiswa Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) yang diterjunkan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Integratif Berdampak 2026 ke beberapa wilayah yang ada di Kabupaten Malang, mereka hadir langsung menjadi jembatan bagi para warga masyarakat seperti halnya umkm, pedagang kaki lima, pengrajin kayu, gerabah, hingga produsen tempe untuk menapaki dunia digital.
Ketertinggalan akses teknologi dan minimnya pengetahuan pemasaran modern kerap menjadi penghambat utama perkembangan UMKM. Merespons hal tersebut, para mahasiswa KKN Unikama yang terjun langsung dilapangan merancang program pendampingan komprehensif yang tidak hanya berfokus pada penjualan, tetapi juga pembangunan fondasi legalitas usaha.
Bukan Sekadar Jualan Online, tapi Membangun Ekosistem Digital
Kegiatan pendampingan yang dilakukan di Desa Glanggang ini dilakukan secara bertahap dan terstruktur. Mahasiswa tidak sekadar mengajarkan cara membuat konten media sosial, tetapi memulai dari langkah paling dasar sekaligus krusial yaitu: penandaan lokasi usaha secara digital. Langkah ini memungkinkan para pelaku UMKM, yang selama ini mungkin hanya dikenal warga sekitar, kini dapat dengan mudah ditemukan oleh calon pelanggan melalui layanan peta digital seperti Google Maps.
Koordinator KKN di Desa Glanggang menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memberikan dampak berkelanjutan. “Kami fokus pada program yang memiliki manfaat nyata. Digitalisasi ini kami harapkan tidak berhenti saat KKN selesai, tetapi terus dijalankan oleh pelaku usaha,” ujarnya, mencontohkan semangat yang digaungkan oleh Rektor Unikama, Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si, saat pelepasan mahasiswa KKN.
Dari Google Maps Hingga NIB: Paket Lengkap Pendampingan
Proses pendampingan mencakup tiga pilar utama. Pertama, peningkatan visibilitas melalui pemetaan digital dan pembuatan banner serta logo. Hal ini bertujuan untuk memperjelas identitas usaha yang selama ini masih “abu-abu” di mata masyarakat umum. Kedua, perluasan akses pasar dengan mendaftarkan produk ke berbagai marketplace serta melatih pengelolaan konten promosi .
Pilar ketiga yang paling fundamental adalah pendampingan aspek legalitas melalui pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB). Mahasiswa membantu para pelaku UMKM memahami tahapan pendaftaran NIB yang kini dapat dilakukan secara gratis melalui sistem Online Single Submission (OSS). Kehadiran NIB bukan sekadar formalitas; ini adalah “tiket emas” bagi UMKM untuk mengakses permodalan dari perbankan (KUR), mengikuti tender pemerintah, serta mendapatkan kepastian hukum.
Salah satu penerima manfaat, Pak Dodik, pemilik usaha gerabah di Desa Glanggang, mengungkapkan rasa terbantunya dengan kehadiran mahasiswa KKN. “Jujur saya tidak mengerti mengenai penggunaan teknologi digital. Mereka membantu pembuatan desain, update media sosial, penandaan lokasi, dan pendaftaran NIB. Ya, Tentu sangat terbantu,” ungkapnya.
Para mahasiswa KKN Unikama sedang berbincang dengan pengerajin gerabah (doc. PPD KKN)
Bukan Sekadar Program, Ini Gerakan Kolaborasi
Kepala Kesejahteraan Rakyat (Kaur Kesra) Desa Glanggang, Pak Kasiono, turut mengapresiasi langkah mahasiswa Unikama. Menurutnya, kontribusi KKN tidak terbatas pada pengembangan UMKM, tetapi juga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan seperti kerja bakti, takziah, hingga kesuksesan pelaksanaan upacara 17 Agustusan.
Keberhasilan pendampingan ini sejalan dengan arahan pemerintah pusat yang tengah gencar mendorong digitalisasi UMKM. Menteri Perdagangan, Budi Santoso, bahkan baru-baru ini mengingatkan bahwa kepemilikan NIB akan menjadi keharusan bagi pelaku usaha yang berjualan di platform elektronik di masa depan. Dengan inisiatif seperti yang dilakukan KKN Unikama ini, para pelaku UMKM di Glanggang tidak hanya selamat dari gempuran digital, tetapi siap “naik kelas” dan bersaing di kancah yang lebih luas.
Melalui pendampingan intensif ini, KKN Unikama berharap para pelaku UMKM di Desa Glanggang dapat semakin mandiri, mampu memanfaatkan teknologi secara optimal, dan memiliki daya saing yang kuat di era ekonomi digital.
Unikama, 21 Agustus 2026 – Di tengah tumpukan sampah organik yang kerap menjadi masalah di perdesaan, hadir sebuah terobosan cemerlang dari sekelompok mahasiswa. Mereka tak sekadar melihat limbah, tetapi juga potensi besar yang tersembunyi di baliknya.
Kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) sukses menggelar program pengabdian masyarakat di Desa Pandanrejo dengan mengedukasi ibu-ibu PKK mengolah limbah kulit jeruk menjadi sabun cuci piring bernilai jual. Kegiatan yang berlangsung Rabu (12/08/2026) ini mendapat sambutan hangat dari warga setempat.
Kandungan Ajaib di Balik Kulit Jeruk
Raihan Adenoer Ekaputra, Penanggung Jawab Program Kerja sekaligus Wakil Koordinator Desa KKN Unikama, menjelaskan bahwa kulit jeruk menyimpan senyawa aktif berupa minyak atsiri alami. Kandungan ini tidak hanya efektif melarutkan lemak sisa makanan, tetapi juga memberikan aroma segar alami tanpa bahan kimia berbahaya.
“Kami ingin mengubah paradigma bahwa limbah adalah akhir dari segalanya. Dengan pendekatan ilmiah dan kreativitas, limbah bisa menjadi awal dari peluang usaha baru,” ujar Raihan dalam pemaparannya.
Antusiasme PKK dan Dukungan Penuh Kepala Desa
Program ini secara khusus melibatkan pengurus dan anggota Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dari seluruh dusun di Desa Pandanrejo. Para peserta tampak antusias menyimak materi dari awal hingga akhir, bahkan aktif berdiskusi mengenai potensi pengembangan produk ke depannya.
Kepala Desa Pandanrejo, Ibu Sumarmi Yusuf, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif mahasiswa KKN Unikama. Menurutnya, program ini sejalan dengan upaya desa dalam memberdayakan ibu-ibu rumah tangga dan mengatasi persoalan sampah organik.
“Program ini sangat bermanfaat bagi ibu-ibu PKK. Kami berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa yang sudah peduli dengan potensi desa dan memberikan keterampilan baru yang bisa langsung diterapkan. Ini bukan sekadar pelatihan, tetapi investasi jangka panjang untuk kemandirian ekonomi keluarga,” ungkap Ibu Sumarmi dengan penuh semangat.
Bukan Sekadar Teori, Tapi Aksi Nyata
Untuk memastikan keberlanjutan program, tim KKN Unikama membagikan modul panduan praktis kepada seluruh peserta. Modul tersebut memuat informasi mengenai tujuan kegiatan, manfaat lingkungan dan ekonomi, hingga petunjuk teknis formulasi dan tata cara pembuatan sabun secara mandiri.
Tak berhenti di situ, para peserta juga menerima sampel produk sabun cuci piring hasil olahan kulit jeruk dalam kemasan botol pump. Pembagian sampel ini bertujuan agar ibu-ibu PKK dapat menguji coba langsung kualitas produk di rumah masing-masing.
“Kami tidak ingin program ini berhenti di sini. Dengan modul dan sampel yang diberikan, kami berharap ibu-ibu bisa mempraktikkan sendiri dan bahkan mengembangkannya menjadi usaha rumahan,” tambah Raihan.
Mahasiswa bersama ibu PKK Desa Pandanrejo praktik membuat sabun piring dari limbah kulit jeruk. (Doc. PDD KKN Pandanrejo)
Dari Limbah Menuju Kemandirian Ekonomi
Melalui program edukasi ini, KKN Unikama berharap dapat membantu mengatasi permasalahan limbah organik di tingkat desa sekaligus memantik lahirnya wirausaha kreatif berbasis produk rumah tangga bagi ibu-ibu PKK Desa Pandanrejo.
“Inovasi seperti ini membuktikan bahwa solusi tidak selalu harus datang dari teknologi mahal. Dengan memanfaatkan potensi lokal dan kreativitas, kita bisa menciptakan produk yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi,” pungkas Ibu Sumarmi.
Ke depan, diharapkan produk sabun cuci piring berbahan kulit jeruk ini tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga dikembangkan sebagai produk unggulan Desa Pandanrejo yang mampu mendukung pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.
Malang — Semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa meriah di lingkungan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (UNIKAMA). Bertempat di Lapangan UNIKAMA, Jumat (21/8/2026), civitas akademika FIP mengikuti berbagai perlombaan yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat nasionalisme, kebersamaan, dan semangat gotong royong.
Kegiatan tersebut diikuti oleh berbagai unsur keluarga besar FIP UNIKAMA, mulai dari Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), Senat Mahasiswa Fakultas (SMF), dosen, tenaga kependidikan (tendik), hingga tenaga penunjang. Sejumlah lomba tradisional seperti estafet sarung, estafet kardus, memancing kerupuk, dan lawan kata menjadi pilihan kegiatan yang menghidupkan suasana kebersamaan di tengah kesibukan akademik dan pelayanan kampus.
Lomba Kemerdekaan Menjadi Ruang Guyub dan Gotong Royong
Selain menjadi sarana rekreasi, perlombaan dirancang sebagai wahana untuk mempererat hubungan antarelemen FIP UNIKAMA. Peserta dituntut bekerja sama, berkomunikasi, dan menunjukkan sportivitas dalam setiap permainan.
Sambutan Ketua PPLP PT-PGRI Malang, Drs. Agus Priyono, M.M.
Ketua PPLP PT-PGRI Malang, Drs. Agus Priyono, M.M., mengapresiasi inisiatif FIP UNIKAMA dalam menyelenggarakan kegiatan peringatan kemerdekaan. Menurutnya, momentum HUT RI tidak semestinya hanya diperingati secara seremonial, tetapi juga perlu dimaknai sebagai upaya menumbuhkan kecintaan terhadap bangsa dan negara.
“Coba kita bayangkan, 81 tahun lalu, para pendahulu kita berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan senjata. Kini, ketika kita telah hidup di alam kemerdekaan, tentu kita perlu terus menumbuhkan rasa cinta tanah air dan semangat nasionalisme melalui berbagai kegiatan positif,” ujar Drs. Agus Priyono, M.M.
Ia menegaskan, kegiatan semacam ini penting untuk menjaga rasa cinta terhadap Indonesia, terutama di lingkungan perguruan tinggi yang dihuni oleh masyarakat terdidik. Agus juga menyampaikan apresiasi kepada Dekan FIP yang dinilai konsisten menghadirkan kegiatan yang menanamkan semangat nasionalisme di lingkungan kampus.
Sementara itu, Wakil Rektor II UNIKAMA, Irma Tyasari, SE, S.Pd, MM, Ak, CA, CPA, CRA, Ph.D, memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan ini bukan sekadar perayaan kemerdekaan, melainkan menjadi momentum untuk membangun kebersamaan.
“Ini merupakan satu inisiatif yang luar biasa yang selain untuk menyemarakkan peringatan 17 Agustus kemerdekaan kita, tetapi juga merupakan satu wahana kita untuk bisa bersama, berkumpul, guyub, rukun, kebersamaan, gotong royong, dan sebagainya,” ungkap Irma.
FIP UNIKAMA Jadikan Kemerdekaan sebagai Momentum Bersyukur dan Berprestasi
Dekan FIP UNIKAMA, Dr. Cicilia Ika Rahayu Nita, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk rasa syukur sekaligus upaya memperkuat kebersamaan keluarga besar fakultas. Ia berharap semangat yang dibangun melalui kegiatan ini dapat mendorong FIP untuk terus berkembang dan mencetak prestasi.
“Jadi kegiatan ini sebagai bentuk ucapan syukur kita. Semoga Fakultas Ilmu Pendidikan semakin baik, lebih berprestasi, dan begitu juga akan berdampak tentunya di Universitas PGRI Kanjuruhan Malang,” tutur Dr. Cicilia Ika Rahayu Nita, M.Pd.
Menurutnya, kebersamaan antara dosen, mahasiswa, tendik, dan tenaga penunjang menjadi modal penting dalam membangun lingkungan akademik yang harmonis. Karena itu, kegiatan peringatan kemerdekaan diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi bagian dari budaya positif di lingkungan FIP UNIKAMA.
Semarak HUT RI ke-81 di FIP UNIKAMA akhirnya tidak hanya menghadirkan keceriaan melalui berbagai lomba tradisional. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan perlu dirawat melalui persatuan, gotong royong, rasa syukur, dan kecintaan terhadap Indonesia.
Dengan semangat “guyub, rukun, dan bersama”, keluarga besar FIP UNIKAMA menunjukkan bahwa nilai-nilai kemerdekaan dapat terus dihidupkan melalui kebersamaan di lingkungan kampus.
MALANG, UNIKAMA – Rangkaian program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (UNIKAMA) 2026 di Desa Sutojayan, Kecamatan Pakisaji, mencatatkan capaian yang sangat baik di tengah gelaran monitoring dan evaluasi (Monev) yang dilaksanakan pada Rabu, 19 Agustus 2026. Kehadiran Ketua PPLP-PT PGRI Malang, Bapak Agus Priyono, MM., dan Direktur DP3M UNIKAMA, Prof. Dr. Mujiono, S.Pd., S.Ag., M.Pd., menjadi saksi atas nyaris tercapainya seluruh kriteria program yang dicanangkan puluhan mahasiswa. Prof. Dr. Mujiono menyatakan bahwa apa yang telah dilakukan para mahasiswa KKN UNIKAMA di Kecamatan Pakisaji, Desa Sutojayan, tersebut sangatlah positif dan sungguh sangat luar biasa, hampir memenuhi seluruh indikator keberhasilan yang ditentukan.
Ciptakan Beragam Program Inovatif di Desa Sutojayan Lewat Identitas Visual dan Infrastruktur
Salah satu pencapaian monumental dari tim KKN UNIKAMA 2026 adalah terciptanya logo resmi untuk Desa Sutojayan. Proses pembuatan logo ini tidak dilakukan secara instan; tim mahasiswa melalui tahap konsultasi mendalam mengenai filosofi dan desain bersama perangkat desa, kemudian melakukan revisi berkali-kali sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik yang diinginkan oleh desa. Logo tersebut dirancang dengan elemen-elemen sarat makna, seperti sawah dan padi yang melambangkan potensi agraris, pendopo sebagai pusat pelayanan masyarakat, bulan dan bintang yang menggambarkan masyarakat religius dan harmonis, daun sebagai representasi pembangunan berkelanjutan, serta tempe sebagai ikon ekonomi berbasis masyarakat.
Tidak hanya berhenti pada logo, tim KKN juga menuntaskan pembuatan plang petunjuk arah dengan progres 100 persen, di mana seluruh plang telah dipasang di titik-titik strategis, serta pembuatan tong sampah yang telah ditempatkan pada lokasi-lokasi sesuai rencana untuk mendukung kebersihan lingkungan desa.
Ilutrasi Logo Desa hasil karya Mahasiswa KKN Unikama Desa Sutojayan, Kecamatan Pakisaji
Sentuhan Pada Program Pendidikan dan Kesehatan
Tim KKN UNIKAMA 2026 juga memberikan perhatian besar pada sektor pendidikan dan kesehatan masyarakat. Sebuah sosialisasi bertajuk “Manajemen Emosi, Nilai, dan Tanggung Jawab” telah terlaksana dengan progres 100 persen di MTs MA KH. Hasyim Asy’ari, yang disambut antusias oleh para santri dan guru. Selain itu, program bimbingan belajar yang dimulai sejak 9 Agustus 2026 masih berlangsung hingga kini dan akan terus berlanjut hingga akhir masa KKN, memberikan pendampingan akademik bagi siswa-siswi di Desa Sutojayan.
Di bidang kesehatan dan kebugaran, kegiatan senam bersama rutin dilaksanakan di berbagai sekolah, mulai dari TK PGRI 2 Sutojayan, SDN Sutojayan, hingga SDI Sutojayan, dengan jadwal selanjutnya pada 22 Agustus 2026 meski beberapa agenda mengalami penyesuaian mengikuti kesibukan sekolah. Tim KKN juga aktif membantu kegiatan Posyandu setiap hari Selasa, yang telah berjalan pada pekan pertama 12 Agustus 2026, meskipun sempat mengalami kendala dalam penentuan lokasi karena tempat pelaksanaan sering berpindah secara mendadak.
Mahasiswa KKN melakukan pengukuran tinggi badan anak – anak pada kegiatan Posyandu di Kantor Desa (Foto: Ramadhan)
Program Inovatif di Desa Sutojayan dengan Komitmen Lingkungan Berkelanjutan
Pelatihan pembuatan kompos yang digelar pada 7 Agustus 2026 menjadi bukti komitmen mahasiswa terhadap isu lingkungan. Hingga 18 Agustus 2026, pemantauan hasil kompos menunjukkan progres sebesar 80 persen, meskipun tim menemukan kendala teknis berupa penyiraman yang terlalu sering sehingga kelembapan kompos kurang terjaga. Hal ini menjadi bahan evaluasi berharga bagi tim dan warga untuk proses selanjutnya. Secara keseluruhan, Kehadiran Ketua PPLP-PT PGRI Malang dan Direktur DP3M UNIKAMA dalam kegiatan Monev tersebut menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sekaligus memberikan apresiasi.
Prof. Dr. Mujiono menekankan bahwa keberhasilan program KKN ini tidak hanya diukur dari angka persentase, tetapi dari dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat. “Saya melihat dedikasi yang tinggi dari para mahasiswa. Mereka tidak sekadar menjalankan program, tetapi benar-benar meresap ke dalam kebutuhan masyarakat. Ini adalah modal dasar yang sangat luar biasa,” tegas Prof. Dr. Mujiono. Masa KKN Mahasiswa yang tinggal menghitung hari, seluruh program yang telah dijalankan diharapkan dapat menjadi legacy positif yang terus dijaga dan dikembangkan oleh warga Desa Sutojayan, mengukuhkan KKN UNIKAMA 2026 sebagai program pengabdian masyarakat yang inovatif, humanis, dan berdampak nyata.
Inovasi dalam Bidang Seni dan Audio Visual
Di sektor kreativitas, mahasiswa KKN UNIKAMA menggagas pembuatan video bumper lagu kebangsaan Indonesia Raya yang nantinya akan melibatkan banyak warga. Dari 15 scene yang direncanakan, sebanyak 14 scene telah selesai direkam, dengan satu scene terakhir yang masih menunggu video penampilan tari siswi yang dibimbing langsung oleh tim KKN. Untuk mendukung produksi tersebut, latihan menari bagi siswa-siswi setempat pun digencarkan dan saat ini progresnya telah mencapai 95 persen.
Rencananya, tari yang dibawakan tidak hanya tarian jawa, tapi juga berbagai tarian dari berbagai daerah seperti Tarian khas Nusa Tenggara Timur dan Tarian Kalimantan. Tidak hanya menghiasi video bumper, tetapi tarian juga akan ditampilkan dalam acara perpisahan sebagai rangkaian akhir kegiatan. Kendala yang sempat dihadapi tim adalah pencarian dan penyesuaian kostum, namun berkat kerjasama solid dengan warga, hambatan tersebut berhasil diatasi.
“Saya ingin menekankan, yang terpenting adalah bagaimana program ini bisa berkelanjutan. Mahasiswa datang dan pergi, tetapi manfaatnya harus tetap dirasakan oleh Desa Sutojayan. Saya melihat kolaborasi yang sangat baik antara mahasiswa, perangkat desa, dan masyarakat. Itu kunci utama kesuksesan ini,” pungkas Prof. Dr. Mujiono mengakhiri tinjauannya.
Dari pembuatan logo resmi yang sarat filosofi hingga video bumper kebangsaan yang menggugah semangat, dari pendampingan belajar bagi generasi muda hingga pelatihan kompos yang ramah lingkungan, seluruh program yang digagas mahasiswa KKN UNIKAMA 2026 di Desa Sutojayan bukan sekadar daftar kegiatan yang tertuntaskan. Lebih dari itu, mereka telah menanamkan benih-benih perubahan: identitas visual yang akan menjadi kebanggaan desa, kesadaran pendidikan yang terus ditanamkan kepada anak-anak, serta budaya gotong royong yang dihidupkan kembali melalui setiap interaksi dengan warga.
Di tengah keterbatasan waktu dan tantangan teknis yang sempat menghadang, semangat kolaborasi dan ketulusan mengabdi menjadi energi penggerak yang membuat hampir seluruh kriteria keberhasilan tercapai. Kini, tinggalah tanggung jawab bersama bagi seluruh elemen Desa Sutojayan untuk merawat dan meneruskan warisan inovasi ini, menjadikannya fondasi bagi pembangunan desa yang lebih mandiri, berbudaya, dan berkelanjutan. KKN UNIKAMA 2026 telah membuktikan bahwa pengabdian mahasiswa bukanlah sekadar ritual tahunan, melainkan gerakan nyata yang meninggalkan jejak abadi bagi masyarakat.
Menguatkan Kepedulian Lingkungan, Peran Keluarga, dan Tumbuh Kembang Anak melalui Pengabdian kepada Masyarakat
MALANG – Upaya membangun masyarakat yang peduli lingkungan dan mendukung tumbuh kembang anak usia dini dilakukan secara terpadu melalui rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Sumber Pasir, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, mahasiswa dan tim pengabdian Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (UNIKAMA) menggelar sejumlah kegiatan yang menyasar dua lingkungan penting dalam kehidupan masyarakat, yakni keluarga dan pendidikan anak usia dini.
Rangkaian kegiatan tersebut meliputi penguatan peran PKK dalam pengelolaan sampah organik, edukasi pemilahan sampah bagi anak usia dini, serta pengembangan motorik kasar melalui senam irama. Ketiganya memiliki fokus berbeda, tetapi saling berkaitan dalam membangun kebiasaan positif sejak dari lingkungan keluarga dan sekolah.
Kegiatan penguatan peran PKK dilaksanakan di TK Muslimat NU 29 Al Falah dan diikuti oleh anggota PKK Desa Sumber Pasir. Kegiatan bertema “Penguatan Civil Society PKK dalam Pengolahan Sampah Organik” tersebut menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai penerima informasi, tetapi sebagai aktor utama dalam menciptakan perubahan di lingkungan sekitar.
PKK Didorong Menjadi Penggerak Budaya Peduli Lingkungan
Kepala Desa Sumber Pasir, Muhdlor, dalam sambutannya menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan. Menurutnya, PKK memiliki posisi strategis karena berhubungan langsung dengan keluarga dan kehidupan sosial masyarakat sehari-hari.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Dr. Siti Muntomimah, M.Pd. yang membahas pentingnya peran PKK dalam menanamkan perilaku memilah sampah sejak anak usia dini. Ia menegaskan bahwa pendidikan lingkungan tidak cukup diberikan melalui teori, sebab anak-anak belajar terutama melalui apa yang mereka lihat dan praktikkan bersama orang-orang terdekat.
“Ketika anak melihat orang tua membuang dan memilah sampah dengan benar, kebiasaan tersebut akan lebih mudah ditiru dan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari,” demikian pesan penting yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Pesan itu menunjukkan bahwa keluarga memiliki peran fundamental dalam membentuk karakter peduli lingkungan. Kebiasaan sederhana seperti membedakan sampah organik dan anorganik, kemudian menempatkannya pada wadah yang sesuai, dapat menjadi pembelajaran praktis yang dilakukan setiap hari.
Sementara itu, Engelbertus Kukuh Widijatmoko, SH., M.Pd. mengajak peserta melihat PKK dalam perspektif civil society. Menurutnya, kekuatan masyarakat tidak hanya dibangun melalui institusi formal, tetapi juga melalui ruang-ruang sosial seperti PKK, kelompok pengajian, arisan, komunitas, dan berbagai perkumpulan warga.
Dalam konteks pengelolaan sampah, ruang sosial tersebut dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran kolektif. Sampah organik yang selama ini dianggap sebagai limbah dapat dikelola menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, bahkan memiliki potensi nilai ekonomi.
Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak berhenti pada persoalan kebersihan. Ia berkembang menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat yang dapat memperkuat kepedulian lingkungan sekaligus membuka peluang produktif bagi keluarga.
Edukasi Sampah Dimulai dari Dunia Anak
Semangat yang sama kemudian diterapkan dalam kegiatan edukasi pemilahan sampah bagi anak-anak di TK Muslimat NU Desa Sumber Pasir. Edukasi bertema “Edukasi Pemilahan Sampah pada Anak Usia Dini melalui Pendekatan Bermain Edukatif” dikemas dengan metode yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini.
Materi yang disampaikan Dr. Sarah dan Dr. Heni tidak diberikan dalam bentuk pembelajaran yang kaku. Anak-anak diajak belajar melalui bermain, bernyanyi, bergerak, berinteraksi, dan melakukan aktivitas secara langsung.
Pendekatan tersebut penting karena anak usia dini cenderung lebih mudah memahami suatu konsep ketika mereka terlibat secara aktif. Sampah pun diperkenalkan bukan sebagai persoalan yang rumit, melainkan melalui kebiasaan sederhana: mengenali, memilah, dan menempatkan sampah sesuai jenisnya.
Kegiatan berlangsung interaktif. Anak-anak terlihat merespons pertanyaan, mengikuti aktivitas, dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Melalui pengalaman tersebut, mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai sampah, tetapi juga belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, kepedulian, dan kebersihan lingkungan.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pendidikan lingkungan dan pendidikan karakter dapat berjalan beriringan. Ketika kebiasaan menjaga lingkungan diperkenalkan sejak dini, anak memiliki kesempatan lebih besar untuk menjadikannya sebagai bagian dari perilaku sehari-hari.
Senam Irama: Belajar melalui Gerak dan Kegembiraan
Selain pendidikan lingkungan, rangkaian pengabdian juga memperhatikan aspek perkembangan fisik anak. Melalui kegiatan “Pengembangan Motorik Kasar Anak Usia Dini melalui Senam Irama”, anak-anak diajak belajar menggunakan gerak tubuh sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Dhirgan Grudhowaringin, M.Pd. menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut, dengan dukungan Engelbertus Kukuh Widijatmoko, SH., M.Pd. Senam irama dipilih karena mampu menggabungkan aktivitas fisik dengan unsur irama, konsentrasi, koordinasi, dan interaksi sosial.
Anak-anak mengikuti gerakan secara bertahap sesuai instruksi. Mereka belajar menjaga keseimbangan, mengoordinasikan gerakan tangan dan kaki, mengikuti irama, serta menyesuaikan gerakan dengan teman-temannya.
Aktivitas tersebut sekaligus memberikan ruang bagi anak untuk menyalurkan energi secara positif. Senam tidak sekadar ditempatkan sebagai kegiatan olahraga, tetapi menjadi media pembelajaran yang memungkinkan anak memperoleh pengalaman secara langsung melalui gerak dan permainan.
Satu Rangkaian, Banyak Dampak
Jika dilihat secara keseluruhan, tiga kegiatan tersebut menunjukkan satu benang merah: pendidikan yang bermakna tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas dan tidak selalu disampaikan melalui metode konvensional.
Penguatan PKK berbicara tentang bagaimana masyarakat dan keluarga dapat menjadi penggerak budaya peduli lingkungan. Edukasi pemilahan sampah mengajarkan anak membangun kebiasaan bertanggung jawab sejak dini. Sementara senam irama memberikan pengalaman belajar melalui aktivitas fisik yang mendukung perkembangan motorik dan sosial anak.
Sinergi antara masyarakat, keluarga, sekolah, narasumber, dan tim pengabdian menjadi fondasi penting dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual. Anak memperoleh pengalaman dari sekolah, orang tua dapat menjadi teladan di rumah, sementara masyarakat memiliki ruang untuk memperkuat kebiasaan tersebut secara kolektif.
Rangkaian kegiatan di Desa Sumber Pasir pada akhirnya memperlihatkan bahwa perubahan sosial dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Memilah sampah, mengajarkan anak menjaga kebersihan, dan mengajak mereka bergerak aktif merupakan tindakan kecil yang memiliki dampak besar apabila dilakukan secara konsisten dan bersama-sama.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut, UNIKAMA tidak hanya hadir membawa pengetahuan, tetapi juga mendorong terbangunnya praktik pendidikan dan pemberdayaan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dari lingkungan keluarga hingga sekolah, dari pengelolaan sampah hingga aktivitas fisik anak, seluruhnya menjadi bagian dari upaya menciptakan masyarakat yang lebih sehat, peduli, aktif, dan berdaya.
Rektor Unikama Dorong Mahasiswa Mengembangkan Potensi Desa secara Multidisiplin pada kegiatan monev KKN.
PAKISAJI, MALANG — Direktorat Pembelajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP3M) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) melakukan monitoring dan evaluasi (monev) pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Wonokerso, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Selasa (19/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian penting untuk memastikan mahasiswa tidak sekadar menjalankan program kerja, tetapi juga memperoleh pengalaman nyata dalam membangun kolaborasi dan menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat.
Monev tersebut dihadiri Rektor Unikama, Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si. ; Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), Rusfandi, S.Pd., MA., Ph.D. ; serta Kepala Pusat Pengembangan Pembelajaran dan Magang, Dr. Agus Sholeh, S.Pd., M.Pd. Kehadiran pimpinan universitas sekaligus menjadi ruang evaluasi terhadap pelaksanaan program KKN dan peluang keberlanjutannya setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdian.
Koordinator Desa (Kordes) Wonokerso, M. Rif’an Rizqi, mahasiswa Fakultas Hukum Unikama, melaporkan bahwa pelaksanaan KKN secara umum berjalan dengan baik. Mahasiswa tidak hanya menjalankan program yang telah dirancang sebelumnya, tetapi juga melakukan penyesuaian berdasarkan hasil observasi terhadap kondisi dan potensi desa.
Tiga Program Unggulan KKN: Digitalisasi UMKM, Bokashi Plus, dan Maggot
Tiga program unggulan menjadi fokus mahasiswa KKN di Desa Wonokerso, yakni digitalisasi UMKM, pembuatan Bokashi Plus, dan budidaya maggot.
Program digitalisasi UMKM telah diselesaikan melalui pendampingan pelaku usaha dalam pemanfaatan QRIS, Nomor Induk Berusaha (NIB), Google Maps, dan Linktree. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas akses informasi, meningkatkan kemudahan transaksi, sekaligus memperkuat kehadiran UMKM desa di ruang digital.
Sementara itu, pembuatan Bokashi Plus dan budidaya maggot masih berada dalam tahap pengembangan sehingga hasil optimalnya membutuhkan waktu. Menariknya, program Bokashi Plus merupakan inovasi yang lahir dari proses observasi mahasiswa. Program tersebut sebelumnya belum tercantum dalam pengajuan awal, tetapi kemudian dikembangkan setelah mahasiswa menemukan potensi pertanian yang cukup besar di Desa Wonokerso.
Mahasiswa Unikama membudidaya magot sebagai program KKN di Desa Wonokerso, Pakisaji.
Selain program unggulan, mahasiswa KKN turut mengambil bagian dalam berbagai kegiatan masyarakat. Mereka berpartisipasi dalam persiapan lomba PBB se-Kecamatan Pakisaji dan kegiatan Pesta Siaga, serta terlibat sebagai pengibar bendera dan anggota paduan suara dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI.
“Kami juga membantu kegiatan Posyandu, TPQ, piket kantor desa dalam membantu administrasi, bersih dusun, serta menjadi panitia perlombaan dan jalan seh
at di RT 09 Dusun Wonokerso,” kata Rif’an.
Mahasiswa bahkan berkolaborasi dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pakisaji dalam Gerakan Tanam Demplot PMAAS (Pertanian Modern Agriculture Advanced System). Kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung mengenai penerapan pertanian modern yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
Rektor: KKN Harus Menghasilkan Program yang Bisa Dilanjutkan Masyarakat
Rektor Unikama, Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si., menegaskan bahwa monev bukan semata-mata untuk melihat apakah program kerja mahasiswa telah terlaksana. Lebih dari itu, kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan KKN benar-benar memberikan pengalaman pembelajaran yang bermakna bagi mahasiswa.
“Tujuan kami melakukan kunjungan monev adalah untuk memastikan apakah mahasiswa kami yang melakukan KKN sudah benar-benar mendapatkan pengalaman di masyarakat,” ujar Prof. Sudi.
Menurutnya, program yang dijalankan mahasiswa perlu diarahkan agar memiliki keberlanjutan. Ia mencontohkan pembuatan Bokashi Plus yang tidak cukup hanya menghasilkan produk dalam skala kecil, tetapi perlu dipikirkan bagaimana manfaatnya dapat dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat secara lebih luas.
“Tidak hanya sekadar Saudara membuat pupuk plus itu, tapi bagaimana kelanjutan kebermanfaatannya. Kalau mungkin sekarang dalam jumlah kecil langsung saja dipakai oleh petani, tapi kalau nanti menjadi besar seperti apa? Nah, ini juga menjadi pemikiran-pemikiran Saudara seperti apa selanjutnya,” jelasnya.
Sambutan Rektor Unikama dalam kegiatan monev mahasiswa KKN di Desa Wonokerso, Pakisaji.
Prof. Sudi melihat Desa Wonokerso memiliki karakteristik yang menarik karena berada pada kawasan yang tidak sepenuhnya berciri pedesaan maupun perkotaan. Kondisi tersebut, menurutnya, justru membuka ruang inovasi yang luas bagi mahasiswa untuk mengidentifikasi potensi ekonomi dan sosial yang dapat dikembangkan.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin. Dengan mahasiswa yang berasal dari berbagai bidang keilmuan, gagasan dan kompetensi yang berbeda dapat diramu menjadi program yang lebih komprehensif.
“Kalau melihat jumlah mahasiswa kita yang dikirim ke desa, 30 dari multidisiplin. Barangkali dari situ bisa kita buat program yang dari masing-masing keahlian bisa mengembangkan pikirannya, bisa menyumbangkan ide gagasannya untuk secara multidisiplin kita kemas,” ungkapnya.
Kepala Desa: Mahasiswa KKN Unikama Mampu Beradaptasi dengan Masyarakat
Kepala Desa Wonokerso, Nariyadi, S.Sos., menyampaikan apresiasi atas kehadiran Rektor Unikama beserta tim DP3M. Ia menilai keberadaan mahasiswa KKN memberikan kontribusi positif bagi berbagai kegiatan desa.
Menurut Nariyadi, S.Sos, program kerja mahasiswa pada dasarnya telah berjalan dan sebagian besar telah diselesaikan. Namun, mahasiswa masih dibutuhkan untuk mendukung berbagai agenda masyarakat yang akan berlangsung selama masa KKN.
“Kami juga sangat terbantu dengan kehadiran anak-anak di sini. Mudah-mudahan di tahun-tahun depan ada lagi KKN dari Unikama yang di Desa Wonokerso ini,” tuturnya.
Ia secara khusus mengapresiasi kemampuan mahasiswa dalam beradaptasi dan bersosialisasi dengan masyarakat. Keterlibatan mahasiswa dalam upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI juga menjadi salah satu bentuk kontribusi yang dirasakan langsung oleh pemerintah desa.
Nariyadi, S.Sos. juga berharap kolaborasi tidak berhenti pada pelaksanaan KKN. Ia membuka peluang agar kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dosen Unikama dapat diarahkan ke Desa Wonokerso.
“Kami juga menginginkan bilamana ada pengabdian masyarakat dosen, bisa diarahkan ke Desa Wonokerso,” katanya.
Menurutnya, kehadiran dosen dan peneliti dapat memberikan dampak lebih luas terhadap pengembangan masyarakat serta berbagai potensi yang dimiliki desa.
Membangun Keberlanjutan Setelah Mahasiswa Kembali ke Kampus
Monev KKN di Desa Wonokerso menunjukkan bahwa keberhasilan pengabdian mahasiswa tidak hanya diukur dari jumlah program yang selesai dilaksanakan. Nilai penting KKN justru terletak pada kemampuan mahasiswa membaca kebutuhan masyarakat, beradaptasi dengan kondisi lokal, membangun kolaborasi, serta meninggalkan pengetahuan dan sistem yang dapat diteruskan.
Dengan sisa masa KKN yang masih berlangsung, Rektor Unikama mendorong mahasiswa untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat. Program yang telah dirintis diharapkan tidak berhenti ketika mahasiswa kembali ke kampus.“Saudara tidak sekadar membuat, tetapi bagaimana Saudara nanti bisa mengajak warga, pengurus kepemudaan untuk nanti bisa melanjutkan. Ada training, ada pembekalan bagi mereka. Begitu nanti Saudara tinggalkan, ini masih bisa berjalan,” tegas Prof. Sudi.
Kolaborasi antara Unikama, mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi fondasi penting untuk membangun model KKN yang berdampak. Desa Wonokerso tidak hanya menjadi ruang belajar bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi mitra strategis dalam menguji dan menerapkan ilmu pengetahuan secara langsung.
Melalui pendekatan multidisiplin dan orientasi keberlanjutan, KKN Unikama diharapkan mampu melahirkan inovasi yang tidak berhenti sebagai program sesaat, melainkan berkembang menjadi praktik pemberdayaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Wonokerso.
Pemberdayaan masyarakat pedesaan berbasis potensi lokal kembali ditunjukkan secara nyata oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang. Melalui kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev), jajaran akademisi meninjau langsung berbagai program kerja unggulan yang tidak hanya berfokus pada efisiensi pertanian dan peternakan, tetapi juga didorong menuju komersialisasi produk yang berpayung hukum melalui pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Sinergi Akademis dan Dukungan Penuh Pemerintah Desa
Kegiatan Monev dibuka secara resmi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Unikama yaitu Ibu Lina Kartikaningrum, S.AB.,M.AB. dengan menyampaikan apresiasi tinggi kepada tim evaluasi serta jajaran pemerintah desa. Dalam sambutannya, DPL menegaskan bahwa program kerja mahasiswa dirancang secara terukur berbasis kebutuhan masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Tujuan utamanya adalah memastikan limbah organik diolah secara murah, ekonomis, dan berkelanjutan (sustainable).
Meskipun pelaksanaan program kerja utama sempat mengalami penyesuaian jadwal akibat keterlibatan aktif mahasiswa dalam membantu warga menyemarakkan peringatan Bulan Kemerdekaan Agustus, progres di lapangan dipastikan berjalan lancar. Sampel produk telah berhasil diproduksi dan memasuki tahap pengimplementasian langsung kepada masyarakat. “Kami sangat mengapresiasi kebersamaan mahasiswa dengan warga. Pemerintah Desa memberikan dukungan penuh serta arahan secara berkelanjutan agar seluruh inovasi yang digagas dapat berdampak panjang dan tidak berhenti saat masa KKN berakhir.” — Arahan Kepala Desa Gunungronggo.
Inovasi Program Kerja Unggulan: Dari Limbah Menjadi Nilai Ekonomi
Penjelasan oleh koordinator desa mengenai Pupuk Organik Cair (POC) sebagai program kerja unggulan.
Berdasarkan paparan laporan Monev yang disampaikan oleh Koordinator Desa (Kordes), mahasiswa merancang intervensi teknologi tepat guna yang berfokus pada rantai pasok pertanian dan peternakan lokal. Pupuk Organik Cair (POC) Berorientasi HKI & Pasar Mengolah sampah organik rumah tangga dan sisa pertanian menjadi pupuk cair bernutrisi tinggi. Produk ini difokuskan untuk kelompok tani (Tani Maju 1–3) guna menyuburkan bibit, tanaman hortikultura, hingga pohon buah skala besar. Produk ini ditargetkan memiliki merek dagang resmi serta didaftarkan HKI.
Pemanfaatan Limbah Cangkang Telur Kaya Kalsium Cangkang telur yang melimpah diolah menjadi tepung kaya kalsium. Inovasi ini berfungsi ganda: sebagai penyubur tanah (dicampur EM4 dan molase) bagi petani, serta sebagai pakan suplemen kalsium (campuran katul/polar) bagi peternak. Fermentasi Pakan Ternak dan Silase Hijauan Guna mengatasi biaya pakan unggas yang tinggi, mahasiswa memformulasikan pakan fermentasi dari sisa makanan dan dedak. Selain itu, teknologi silase berbasis fermentasi daun kering dalam kantong plastik diperkenalkan untuk memperpanjang masa simpan pakan ternak sekaligus meningkatkan kandungan gizinya.
Edukasi Bahaya Narkoba Terselubung dan Pendekatan Sosial-Masyarakat
Selain fokus pada sektor agribisnis, mahasiswa KKN memberikan perhatian khusus pada ketahanan sosial pemuda desa melalui sosialisasi anti-narkoba. Edukasi ini menyoroti maraknya penyalahgunaan zat berbahaya terselubung, khususnya zat narkotika yang disisipkan dalam cairan rokok elektrik (liquid vape). Untuk menyiasati padatnya aktivitas harian warga, mahasiswa menerapkan strategi pelaksanaan yang adaptif. Seluruh kegiatan sosialisasi dan pelatihan teknis diselenggarakan pada malam hari. Selain itu, materi pengolahan diproduksi setelah berkonsultasi langsung dengan tokoh masyarakat dan pakar pertanian lokal guna memastikan kesesuaian metode teknis di lapangan.
Evaluasi Teknis, Standarisasi Produk, dan Proteksi HKI
Dalam sesi peninjauan, tim penilai memberikan beberapa catatan teknis strategis guna menyempurnakan luaran program kerja. Salah satu poin utama yang ditekankan adalah kejelasan petunjuk teknis pada modul dan brosur panduan. Warga membutuhkan takaran bahan yang pasti (seperti volume tetes tebu/ molase), kapasitas wadah, serta durasi fermentasi yang presisi.
Mengingat masa fermentasi membutuhkan waktu sekitar dua minggu—di mana masa KKN mungkin telah usai—tim monev memastikan keberlanjutan proses tetap berjalan karena sampel awal dan master formula telah diserahterimahkan kepada warga desa. “Keberhasilan utama dari program kerja KKN maupun kepakaran akademisi saat ini diukur dari seberapa besar dampak langsung serta keterpakainnya oleh masyarakat. Pendaftaran HKI dan pemberian merek atau branding sangat krusial agar produk ini tidak hanya dipakai secara internal, tetapi juga bisa dipasarkan ke luar desa untuk mendongkrak perekonomian lokal.” — Catatan Evaluasi Tim Monev KKN.
Mengakhiri rangkaian monitoring dan evaluasi, Dr. Choirul Huda, M.Si. memberikan pengarahan mendalam terkait tata kelola sisa masa KKN yang tinggal menyisakan dua minggu. Mahasiswa diminta mengelola waktu secara presisi agar seluruh target penyusunan laporan akhir tidak tertunda. Penggunaan platform kolaboratif seperti Google Drive dan pembagian penanggung jawab (Person in Charge/PIC) di bawah komando Kordes menjadi kewajiban mutlak. Selain itu, seluruh mahasiswa diwajibkan menyusun artikel ilmiah/populer yang dibimbing langsung oleh DPL, Ibu Lina Kartikaningrum, S.AB.,M.AB. Publikasi tidak hanya terbatas pada program kerja utama, tetapi juga mengeksplorasi potensi sosial-budaya desa yang memiliki nilai jual dan daya tarik publikasi. Di akhir penyampaiannya, Pak Choi menitipkan pesan mendalam mengenai etika dan nilai dasar kebangsaan. Mahasiswa diminta senantiasa menjaga nama baik almamater UNIKAMA dan daerah asal masing-masing. Sikap inklusif dan adaptif sangat ditekankan, terutama bagi mahasiswa yang berasal dari luar Jawa seperti NTT dan Temanggung, agar terus membaur secara harmonis dengan masyarakat lokal hingga masa pengabdian usai.
Kehidupan bermasyarakat di kawasan pelosok sering kali menyimpan potensi besar yang terkendala oleh minimnya akses infrastruktur dan tata kelola usaha. Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) hadir sebagai katalisator perubahan untuk menjawab tantangan tersebut secara nyata. Melalui serangkaian program kerja berbasis keilmuan dan kebutuhan warga, perubahan berkesinambungan mulai dirintis dari sudut Dusun Mbaran.
Menekan Risiko Kecelakaan di Jalur Menurun dan Berkelok
Geografis Dusun Mbaran yang didominasi kontur jalan berkelok dan menurun tajam kerap mengintai keselamatan pengguna jalan. Area blind spot atau titik buta di beberapa tikungan kerap menjadi pemicu potensi kecelakaan lalu lintas.
Melihat ancaman tersebut, mahasiswa KKN Unikama mengambil langkah preventif dengan merealisasikan pemancangan kaca cembung atau convex mirror di titik-titik rawan. “Pemasangan kaca cembung ini sangat vital agar pengendara dapat melihat kendaraan dari arah berlawanan sebelum melintasi tikungan tajam,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa KKN. Melalui tindakan teknis ini, visibilitas para pengguna jalan meningkat secara signifikan sehingga risiko fatalitas lalu lintas dapat ditekan.
Pemetaan Digital Jalur HIPAM untuk Efisiensi Distribusi Air Bersih
Akses air bersih merupakan kebutuhan mendasar yang memerlukan pengelolaan sistematis. Saat ini, sistem Himpunan Petani Pemakai Air Minum (HIPAM) setempat mengandalkan tiga sumber air utama. Dua sumur bor berlokasi di wilayah Kerajan untuk menyuplai ratusan rumah tangga, sementara satu titik sumber air di Mbaran menyokong kebutuhan air bagi puluhan rumah.
Guna mengoptimalkan tata kelola distribusi air tersebut, mahasiswa menyusun peta jaringan aliran air bersih desa secara digital. Peta infrastruktur ini dibuat untuk memudahkan proses pemeliharaan, deteksi kebocoran, dan perencanaan ekspansi jaringan di masa mendatang. Pengurus HIPAM menuturkan bahwa peta digital tersebut sangat membantu pengurus dalam memetakan kendala teknis jaringan pipa secara akurat.
Memperkuat Manajemen Keuangan dan Akses Permodalan UMKM
Pemaparan Program Kerja olah Mahasiswa KKN Desa Gunungsari, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang.
Sektor ekonomi lokal seperti peternak telur, petani sayur, pembudi daya jamur, hingga pemilik toko kelontong menjadi tulang punggung perekonomian warga. Namun, sebagian besar pelaku usaha masih menyatukan uang pribadi dan modal usaha, yang kerap memicu instabilitas finansial harian.
Mahasiswa KKN Uniakama melakukan program sosialisasi manajemen keuangan digelar untuk mengedukasi para pelaku UMKM. Warga dibimbing secara langsung mengenai teknik pembukuan sederhana dan pentingnya pemisahan kas usaha.
Sebagai langkah keberlanjutan, tim KKN merumuskan rekomendasi strategis berupa pendaftaran NIB online yakni bimbingan pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) secara mandiri untuk legalitas usaha sekaligus syarat pengajuan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Edukasi Perpajakan dan pendampingan kepemilikan NPWP sebagai bentuk ketaatan administrasi bisnis yang profesional.
Sinergi Sosial melalui Pendampingan Posyandu dan Semarak HUT RI
Di samping fokus pada program utama, keterlibatan sosial dibuktikan melalui pendampingan rutin di TPQ, sekolah dasar (SD), dan kegiatan Posyandu setempat. Edukasi kesehatan balita dan pendampingan belajar anak-anak menjadi agenda harian yang mempererat hubungan emosional antara mahasiswa dan warga.
Kebersamaan tersebut mencapai puncaknya saat peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Mahasiswa KKN bersama warga lokal bahu-membahu merancang serta memeriahkan perlombaan 17-an, menciptakan integrasi sosial yang harmonis dan berkesan bagi masyarakat Dusun Mbaran.
Dekan FBS Unikama menegaskan bahwa kelulusan bukan akhir perjalanan, melainkan awal pengembangan diri dan pengabdian kepada masyarakat
MALANG —Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) menggelar Yudisium Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 pada Selasa (18/8/2026). Bertempat di Ruang Abdoel Rajab, kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi 58 mahasiswa yang secara resmi menyelesaikan perjalanan akademiknya di tiga program studi.
Kegiatan yudisium Fakultas Bahasa dan Sastra Unikama Tahun 2026.
Sebanyak 58 mahasiswa dinyatakan mengikuti yudisium, terdiri atas 30 lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, 15 lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, serta 13 lulusan Program Studi Sastra Inggris. Prosesi tersebut sekaligus menandai peralihan para peserta dari status mahasiswa menjadi lulusan yang siap memasuki dunia profesional dan kehidupan bermasyarakat.
Dekan FBS Unikama, Rusfandi, S.Pd., MA., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa yudisium merupakan momentum penting karena menjadi penetapan resmi kelulusan mahasiswa.
“Yudisium tentunya Saudara-Saudari pahami adalah momen sangat penting karena merupakan penetapan resmi kelulusan,” ujar Rusfandi, S.Pd., MA., Ph.D.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah menyelesaikan studi dengan baik. Menurutnya, pengukuhan kelulusan tersebut seharusnya dipandang bukan sebagai garis akhir, melainkan sebagai awal perjalanan untuk mengembangkan kapasitas diri dan meraih kesuksesan berikutnya.
Tiga Program Studi, Tiga Jalur Keilmuan, Satu Bekal untuk Masa Depan
Setelah dikukuhkan dalam yudisium, para lulusan FBS Unikama telah berhak menyandang gelar akademik sesuai program studi masing-masing. Lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pendidikan Bahasa Inggris memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.), sedangkan lulusan Program Studi Sastra Inggris memperoleh gelar Sarjana Sastra (S.S.).
Rusfandi, S.Pd., MA., Ph.D. menegaskan bahwa para lulusan tidak perlu menunggu prosesi wisuda untuk menyandang gelar akademik tersebut.
Sambutan Dekan FBS, Rusfandi, S.Pd., MA., Ph.D..
“Setelah acara pengukuhan ini, Anda sudah berhak menyandang gelar Sarjana Pendidikan bagi lulusan Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, serta Sarjana Sastra untuk lulusan Prodi Sastra Inggris,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dekan FBS Unikama juga menyampaikan penghargaan kepada para dosen dan tenaga kependidikan yang telah berperan dalam proses pendidikan mahasiswa. Bimbingan akademik, pengalaman, pengetahuan, hingga nilai-nilai moral yang diberikan selama masa studi dinilai menjadi bekal penting bagi para lulusan dalam menghadapi kehidupan setelah kampus.
Lulusan Terbaik FBS Unikama
Sebagai bentuk apresiasi atas capaian akademik, FBS Unikama juga memberikan penghargaan kepada lulusan terbaik dari masing-masing program studi.
Penghargaan tersebut diberikan kepada Zacky Husein dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dengan IPK 3,95, Muhamad Liga Sugiri dari Program Studi Sastra Inggris dengan IPK 3,77, serta Yassi Afrita Nur Aini dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan IPK 3,75.
Capaian tersebut menjadi representasi dari proses akademik yang dijalani para mahasiswa sekaligus motivasi bagi lulusan lainnya untuk terus mengembangkan kompetensi setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.
Orasi Ilmiah: Sarjana di Era AI Harus Memiliki Kecerdasan dan Kebijaksanaan
Salah satu agenda penting dalam rangkaian yudisium adalah orasi ilmiah yang disampaikan Dosen FBS Unikama, Riswanda Himawan, M.Pd. Mengangkat perspektif mengenai “Sarjana di Era AI: Antara Kecerdasan Teknologi dan Kebijaksanaan Manusia” , orasi tersebut mengajak para lulusan melihat perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara kritis dan proporsional.
Riswanda Himawan, M.Pd. menjelaskan bahwa AI telah menjadi kekuatan transformatif dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pembelajaran bahasa dan sastra. Teknologi tersebut dapat membantu berbagai aktivitas, mulai dari membaca, menulis, menyimak, berbicara, analisis data, hingga mendukung proses pembelajaran dan penciptaan karya sastra.
Namun, pemanfaatan AI menurutnya harus dibarengi dengan literasi digital dan kesadaran etis. AI tidak seharusnya ditempatkan sebagai pengganti manusia, melainkan sebagai perangkat yang membantu manusia bekerja secara lebih efektif.
Dalam orasinya, dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tersebut juga menekankan lima kompetensi penting yang perlu dimiliki sarjana di era AI, yaitu critical thinking, creativity, communication, collaboration, serta character and wisdom . Kelima kompetensi tersebut menjadi fondasi agar lulusan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi tanpa kehilangan aspek kemanusiaan.
Pandangan tersebut selaras dengan pesan Dekan FBS Unikama yang meminta lulusan bersikap adaptif, kritis, dan reflektif terhadap perkembangan teknologi.
“Jangan menempatkan AI sebagai tuan atau majikan, dan Anda bergantung dan bahkan menjadi budaknya,” pesan Rusfandi, S.Pd., MA., Ph.D. kepada para lulusan.
Menurutnya, AI dapat digunakan untuk memproses data, mengenali pola, dan menghasilkan informasi. Sementara itu, manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk memahami, memberikan makna, mempertimbangkan perasaan, nilai, budaya, serta dampak sosial dari setiap tindakan.
“Manusia tetap memiliki peran yang tidak bisa digantikan oleh AI,” tegasnya.
Pesan Dekan: Jadikan Lifelong Learning sebagai Prinsip
Menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dinamis, Rusfandi mendorong para lulusan untuk menjadikan lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat sebagai prinsip dalam mengembangkan karier.
Ia menilai dunia kerja masa kini tidak lagi hanya membutuhkan satu disiplin ilmu. Lulusan dituntut memiliki kompetensi yang integratif, baik berupa hard skill maupun soft skill , serta mampu beradaptasi dengan kebutuhan dan perubahan zaman.
“Jangan melawan arus perubahan, karena perubahan adalah sebuah keniscayaan. Teruslah belajar, sehingga dengan itu Anda bisa terus mengembangkan kompetensi dan daya tawar Anda di dunia kerja,” tuturnya.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah perkembangan teknologi AI yang mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, dan menghasilkan pengetahuan.
Dari Mahasiswa Menjadi Alumni: Menjaga Nama Baik Almamater
Sementara itu, perwakilan mahasiswa angkatan 2022, Linda Antika, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, menyampaikan sambutan yang merefleksikan perjalanan para lulusan sejak pertama kali menjadi mahasiswa hingga akhirnya menyandang gelar akademik.
Linda menggambarkan perjalanan tersebut sebagai proses panjang yang diwarnai keraguan, perjuangan, tugas, revisi, kegagalan, persahabatan, dan berbagai pengalaman yang membentuk karakter.
Pidato perwakilan mahasiswa oleh Linda Antika, mahasiswa FBS angkatan 2022.
“Hari ini, bertahun-tahun kemudian, kami berdiri di ruangan ini bukan lagi sebagai mahasiswa baru yang gamang, melainkan sebagai lulusan yang telah menyelesaikan perjuangan panjang itu,” ungkap Linda.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Unikama, FBS, program studi, dosen, tenaga kependidikan, serta orang tua yang telah memberikan dukungan selama proses pendidikan.
Menurut Linda, pendidikan yang diperoleh di FBS tidak hanya memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, menghargai bahasa dan sastra, serta memahami kehidupan secara lebih luas.
Ia pun mengajak seluruh lulusan untuk terus menjaga nama baik almamater dan memberikan kontribusi positif di tengah masyarakat.
Lulusan FBS Unikama Diproyeksikan Menjadi Bagian dari Masyarakat
Menutup sambutannya, Rusfandi, S.Pd., MA., Ph.D. mengingatkan para lulusan untuk tetap menjaga hubungan dengan almamater setelah menyelesaikan studi. Para alumni diharapkan terus menjalin komunikasi dengan program studi dan fakultas serta memberikan gagasan konstruktif bagi pengembangan FBS Unikama.
Ia juga mengajak lulusan untuk menyebarluaskan pengalaman positif selama menempuh pendidikan sebagai bagian dari kontribusi alumni terhadap penguatan citra almamater.
Lebih dari sekadar seremoni akademik, Yudisium FBS Unikama Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 menjadi ruang refleksi mengenai kesiapan lulusan menghadapi dunia yang terus berubah. Sebanyak 58 lulusan tidak hanya membawa gelar akademik, tetapi juga membawa pengetahuan, keterampilan, pengalaman, nilai kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial.
“Jangan pernah berhenti belajar, karena kehidupan tak pernah berhenti memberi pelajaran,” pesan Rusfandi, S.Pd., MA., Ph.D.
Dengan bekal tersebut, para lulusan FBS Unikama diharapkan mampu melangkah sebagai insan akademik yang adaptif terhadap teknologi, kritis dalam berpikir, bijaksana dalam bertindak, serta produktif dalam memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.
Malang, 18 Agustus 2026 – Sebuah kisah inspiratif datang dari Maulana, seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2025 di Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama). Ia berhasil mengukir prestasi membanggakan dengan tampil sebagai penari dalam pergelaran seni budaya di puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya pada saat Upacara 17 Agustus 2026, di Istana Merdeka, Jakarta .
Penampilan Maulana dan penari lainnya menjadi salah satu sorotan dalam rangkaian upacara kenegaraan yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto . Kehadiran dan penampilan kreasi seni dan budaya di Istana Negara tentu bukan sekadar sebuah pertunjukan biasa, melainkan representasi dari kekayaan budaya khas Jawa Timur, khususnya Tari Topeng Malang, yang dipersembahkan di hadapan para pemimpin tertinggi negara dan tamu undangan kehormatan.
Peluang Emas dari Sanggar dan Pemerintah Daerah
Kesempatan luar biasa ini tentu tidak datang secara instan. Maulana mengungkapkan rasa syukur dan terharunya atas amanah besar yang diberikan kepadanya. “Tentunya perasaan saya sangat bahagia sekali, ada perasaan terharu juga karena bisa tampil di Istana Merdeka. Bagi saya, ini adalah pengalaman yang sangat berharga di kehidupan saya,” ungkap Maulana dengan penuh haru.
Ia menjelaskan bahwa keterpilihannya merupakan buah dari proses panjang bersama Sanggar Lestari Widodo Wiryotama yang berasal dari Tulungagung. Sanggar yang telah malang melintang di dunia seni tari tradisional ini dipercaya oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur untuk mengirimkan delegasi terbaiknya dalam rangka menyemarakkan perayaan kemerdekaan di tingkat nasional.
“Alhamdulillah, saya terpilih dan diberi amanah dari Sanggar Lestari Widodo Wiryotama Tulungagung untuk ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Bisa tampil ke Istana Merdeka kemarin karena ada dukungan dari Gubernur Jawa Timur dan dinaungi oleh Dinas Pariwisata dan Budaya Jatim, serta di bawah bimbingan sanggar,” jelas Maulana .
Penampilannya merupakan bagian dari kolaborasi besar yang melibatkan sekitar 100 hingga 200 seniman muda dari berbagai daerah di Jawa Timur. Mereka membawakan medley lima tarian khas Jatim, di antaranya Tari Topeng Malang yang dibawakan oleh Maulana dan rekan – rekannya, kemudian Tari Remo, Jaranan Senterewe, Glipang, dan Jaripah. Kekompakan dan estetika pertunjukan yang disajikan mendapat perhatian langsung dari peserta upacara yang hadir di halaman Istana Merdeka .
Penampilan penari Topeng pada Upacara peringatan 17 agustus 2026 di Istana Negara (Tangkapan Layar, Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)
Refleksi Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra
Sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Maulana tidak hanya belajar tentang teks dan tata bahasa, tetapi juga mendalami nilai-nilai luhur budaya yang terkandung dalam kesenian tradisional. Pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa generasi muda, khususnya mahasiswa Unikama, memiliki peran aktif dalam melestarikan dan mempromosikan budaya bangsa di kancah nasional bahkan internasional.
Hal ini merupakan langkah konkret dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur sekaligus komitmen sebagai Pemerintah Provinsi untuk membuka ruang seluas-luasnya bagi generasi muda dalam mengembangkan dan memperkenalkan seni tradisional daerah. Keberhasilan Maulana dan kawan-kawan tidak hanya membanggakan institusi pendidikan, tetapi juga memperkuat posisi budaya Jawa Timur di mata dunia.
Malang, 14 Agustus 2026 – Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) menggelar Yudisium Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026. Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi 119 mahasiswa Program Studi Manajemen, Akuntansi, dan Pendidikan Ekonomi yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan akademiknya.
Yudisium FEB Unikama tidak hanya menjadi penanda berakhirnya perjalanan mahasiswa di bangku perguruan tinggi, tetapi juga menjadi awal bagi para lulusan untuk memasuki dunia profesional dan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Dalam kegiatan tersebut, FEB Unikama menekankan pentingnya integritas, inovasi, kemampuan beradaptasi, serta tanggung jawab dalam menghadapi dinamika dunia kerja dan perkembangan global.
119 Mahasiswa FEB Unikama Dinyatakan Lulus
Pada Yudisium Fakultas Ekonomika dan Bisnis Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, sebanyak 119 mahasiswa dinyatakan lulus. Para lulusan tersebut berasal dari tiga program studi yang berada di lingkungan FEB Unikama. Program Studi Manajemen menjadi penyumbang lulusan terbanyak dengan 82 mahasiswa. Selanjutnya, Program Studi Akuntansi meluluskan 29 mahasiswa, dan Program Studi Pendidikan Ekonomi meluluskan 8 mahasiswa.
Selain pengumuman kelulusan, FEB Unikama juga memberikan penghargaan kepada mahasiswa lulusan terbaik dari masing-masing program studi. Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas capaian akademik sekaligus motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus meningkatkan prestasi.
Lulusan terbaik Program Studi Manajemen diraih oleh Roidah Salma Mahmuddah dengan IPK 3,94 . Sementara itu, Aisyah Alfitri menjadi lulusan terbaik Program Studi Akuntansi dengan IPK 3,88, dan Iva Mazhidatus Salsabila meraih predikat lulusan terbaik Program Studi Pendidikan Ekonomi dengan IPK 3,88. Capaian tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan di FEB Unikama tidak hanya berorientasi pada penyelesaian studi, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk mencapai prestasi akademik terbaik.
Prosesi Yudisium Dekan FEB Dr. Rita Indah Mustikowati, S.E., M.M., bersama mahasiswa (doc.humas)
FEB Unikama Tekankan Integritas, Pengetahuan, dan Akuntabilitas
Dalam rangkaian Yudisium FEB Unikama, Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Dr. Rita Indah Mustikowati, S.E., M.M., menyampaikan pesan penting kepada para lulusan agar menjadikan kelulusan sebagai momentum untuk memasuki fase kehidupan yang baru.
Yudisium, menurutnya, bukan sekadar pengumuman kelulusan, melainkan momentum perubahan identitas. Setelah menyelesaikan pendidikan, para mahasiswa diharapkan mampu mengabdikan ilmu pengetahuan yang diperoleh untuk kemajuan masyarakat, dunia usaha, dan bangsa Indonesia. “Jadikan ilmu yang Saudara peroleh sebagai kekuatan untuk terus berkarya dan memberikan manfaat. Jagalah nama baik almamater melalui karya nyata, serta jadilah lulusan yang berintegritas, inovatif, adaptif, dan berdaya saing global.” Ungkapnya.
Pesan tersebut diperkuat melalui orasi ilmiah yang mengangkat tema “Mencetak Generasi Penggerak Perubahan: Sinergi Niat, Pengetahuan, Kesadaran, Akuntabilitas, dan Transparansi dalam Membangun Lulusan Unggul.” Orasi ilmiah tersebut disampaikan oleh dosen FEB Unikama berprestasi, Dr. Supami Wahyu Setiyowati, S.E., M.S.A., Ak., C.A., M.M.
Orasi tersebut mengangkat hasil penelitian mengenai pengaruh niat, pengetahuan, dan kesadaran terhadap keputusan yang dimoderasi oleh akuntabilitas dan transparansi. Meskipun penelitian tersebut berangkat dari konteks pengambilan keputusan dalam wakaf tunai, nilai yang terkandung di dalamnya dinilai relevan dengan kehidupan profesional para lulusan. Dalam rangkaian Yudisium FEB Unikama, Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Dr. Rita Indah Mustikowati, S.E., M.M., menyampaikan pesan penting kepada para lulusan agar menjadikan kelulusan sebagai momentum untuk memasuki fase kehidupan yang baru.
Dekan dan Kaprodi bersama mahasiswa lulusan terbaik Fakultas Ekonomika dan Bisnis UNIKAMA (doc.humas)
Pesan untuk Lulusan Manajemen, Akuntansi, dan Pendidikan Ekonomi
Nilai-nilai yang disampaikan dalam orasi ilmiah tersebut kemudian dikaitkan dengan karakteristik masing-masing program studi. Lulusan Akuntansi, misalnya, diharapkan mampu menempatkan integritas sebagai fondasi profesionalisme. Seorang akuntan tidak hanya bertugas menyusun laporan keuangan atau melakukan analisis, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga kepercayaan publik. Sementara itu, lulusan Manajemen didorong untuk menjadikan niat sebagai dasar dalam menjalankan kepemimpinan. Kemampuan mengambil keputusan strategis harus diimbangi dengan kepedulian terhadap karyawan, organisasi, investor, masyarakat, dan keberlanjutan.
Adapun lulusan Pendidikan Ekonomi memiliki peran strategis dalam membangun karakter generasi melalui dunia pendidikan. Mereka tidak hanya dituntut menguasai teori ekonomi, tetapi juga diharapkan mampu menanamkan nilai kejujuran, kreativitas, produktivitas, dan tanggung jawab kepada peserta didik. Dalam menghadapi transformasi digital, ekonomi hijau, kecerdasan buatan, serta persaingan global, para lulusan FEB Unikama juga dituntut untuk terus belajar dan beradaptasi. Pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan perlu dikembangkan melalui pengalaman, kreativitas, dan kemampuan membaca perubahan.
Melalui semangat berkarya, berprestasi, dan berdampak bagi masa depan, FEB Unikama mendorong para lulusan untuk terus belajar, berinovasi, menjaga integritas, serta memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat. Gelar akademik yang diperoleh diharapkan tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi, tetapi menjadi modal untuk menghadirkan karya dan perubahan yang bermanfaat bagi bangsa.