UNIKAMA
Yudisium FBS Unikama, 58 Lulusan Didorong Adaptif dan Kritis di Era Kecerdasan Buatan

Yudisium FBS Unikama, 58 Lulusan Didorong Adaptif dan Kritis di Era Kecerdasan Buatan

Yudisium FBS Unikama

Dekan FBS Unikama menegaskan bahwa kelulusan bukan akhir perjalanan, melainkan awal pengembangan diri dan pengabdian kepada masyarakat

MALANG — Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) menggelar Yudisium Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 pada Selasa (18/8/2026). Bertempat di Ruang Abdoel Rajab, kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi 58 mahasiswa yang secara resmi menyelesaikan perjalanan akademiknya di tiga program studi.

Kegiatan yudisium Fakultas Bahasa dan Sastra Unikama Tahun 2026.

Sebanyak 58 mahasiswa dinyatakan mengikuti yudisium, terdiri atas 30 lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, 15 lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, serta 13 lulusan Program Studi Sastra Inggris. Prosesi tersebut sekaligus menandai peralihan para peserta dari status mahasiswa menjadi lulusan yang siap memasuki dunia profesional dan kehidupan bermasyarakat.

Dekan FBS Unikama, Rusfandi, S.Pd., MA., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa yudisium merupakan momentum penting karena menjadi penetapan resmi kelulusan mahasiswa.

“Yudisium tentunya Saudara-Saudari pahami adalah momen sangat penting karena merupakan penetapan resmi kelulusan,” ujar Rusfandi, S.Pd., MA., Ph.D.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah menyelesaikan studi dengan baik. Menurutnya, pengukuhan kelulusan tersebut seharusnya dipandang bukan sebagai garis akhir, melainkan sebagai awal perjalanan untuk mengembangkan kapasitas diri dan meraih kesuksesan berikutnya.

Tiga Program Studi, Tiga Jalur Keilmuan, Satu Bekal untuk Masa Depan

Setelah dikukuhkan dalam yudisium, para lulusan FBS Unikama telah berhak menyandang gelar akademik sesuai program studi masing-masing. Lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pendidikan Bahasa Inggris memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.), sedangkan lulusan Program Studi Sastra Inggris memperoleh gelar Sarjana Sastra (S.S.).

Rusfandi, S.Pd., MA., Ph.D. menegaskan bahwa para lulusan tidak perlu menunggu prosesi wisuda untuk menyandang gelar akademik tersebut.

Sambutan Dekan FBS, Rusfandi, S.Pd., MA., Ph.D..

“Setelah acara pengukuhan ini, Anda sudah berhak menyandang gelar Sarjana Pendidikan bagi lulusan Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, serta Sarjana Sastra untuk lulusan Prodi Sastra Inggris,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dekan FBS Unikama juga menyampaikan penghargaan kepada para dosen dan tenaga kependidikan yang telah berperan dalam proses pendidikan mahasiswa. Bimbingan akademik, pengalaman, pengetahuan, hingga nilai-nilai moral yang diberikan selama masa studi dinilai menjadi bekal penting bagi para lulusan dalam menghadapi kehidupan setelah kampus.

Lulusan Terbaik FBS Unikama

Sebagai bentuk apresiasi atas capaian akademik, FBS Unikama juga memberikan penghargaan kepada lulusan terbaik dari masing-masing program studi.

Penghargaan tersebut diberikan kepada Zacky Husein dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dengan IPK 3,95, Muhamad Liga Sugiri dari Program Studi Sastra Inggris dengan IPK 3,77, serta Yassi Afrita Nur Aini dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan IPK 3,75.

Capaian tersebut menjadi representasi dari proses akademik yang dijalani para mahasiswa sekaligus motivasi bagi lulusan lainnya untuk terus mengembangkan kompetensi setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.

Orasi Ilmiah: Sarjana di Era AI Harus Memiliki Kecerdasan dan Kebijaksanaan

Salah satu agenda penting dalam rangkaian yudisium adalah orasi ilmiah yang disampaikan Dosen FBS Unikama, Riswanda Himawan, M.Pd. Mengangkat perspektif mengenai “Sarjana di Era AI: Antara Kecerdasan Teknologi dan Kebijaksanaan Manusia” , orasi tersebut mengajak para lulusan melihat perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara kritis dan proporsional.

Riswanda Himawan, M.Pd. menjelaskan bahwa AI telah menjadi kekuatan transformatif dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pembelajaran bahasa dan sastra. Teknologi tersebut dapat membantu berbagai aktivitas, mulai dari membaca, menulis, menyimak, berbicara, analisis data, hingga mendukung proses pembelajaran dan penciptaan karya sastra.

Namun, pemanfaatan AI menurutnya harus dibarengi dengan literasi digital dan kesadaran etis. AI tidak seharusnya ditempatkan sebagai pengganti manusia, melainkan sebagai perangkat yang membantu manusia bekerja secara lebih efektif.

Dalam orasinya, dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tersebut juga menekankan lima kompetensi penting yang perlu dimiliki sarjana di era AI, yaitu critical thinking, creativity, communication, collaboration, serta character and wisdom . Kelima kompetensi tersebut menjadi fondasi agar lulusan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi tanpa kehilangan aspek kemanusiaan.

Pandangan tersebut selaras dengan pesan Dekan FBS Unikama yang meminta lulusan bersikap adaptif, kritis, dan reflektif terhadap perkembangan teknologi.

“Jangan menempatkan AI sebagai tuan atau majikan, dan Anda bergantung dan bahkan menjadi budaknya,” pesan Rusfandi, S.Pd., MA., Ph.D. kepada para lulusan.

Menurutnya, AI dapat digunakan untuk memproses data, mengenali pola, dan menghasilkan informasi. Sementara itu, manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk memahami, memberikan makna, mempertimbangkan perasaan, nilai, budaya, serta dampak sosial dari setiap tindakan.

“Manusia tetap memiliki peran yang tidak bisa digantikan oleh AI,” tegasnya.

Pesan Dekan: Jadikan Lifelong Learning sebagai Prinsip

Menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dinamis, Rusfandi mendorong para lulusan untuk menjadikan lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat sebagai prinsip dalam mengembangkan karier.

Ia menilai dunia kerja masa kini tidak lagi hanya membutuhkan satu disiplin ilmu. Lulusan dituntut memiliki kompetensi yang integratif, baik berupa hard skill maupun soft skill , serta mampu beradaptasi dengan kebutuhan dan perubahan zaman.

“Jangan melawan arus perubahan, karena perubahan adalah sebuah keniscayaan. Teruslah belajar, sehingga dengan itu Anda bisa terus mengembangkan kompetensi dan daya tawar Anda di dunia kerja,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah perkembangan teknologi AI yang mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, dan menghasilkan pengetahuan.

Dari Mahasiswa Menjadi Alumni: Menjaga Nama Baik Almamater

Sementara itu, perwakilan mahasiswa angkatan 2022, Linda Antika, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, menyampaikan sambutan yang merefleksikan perjalanan para lulusan sejak pertama kali menjadi mahasiswa hingga akhirnya menyandang gelar akademik.

Linda menggambarkan perjalanan tersebut sebagai proses panjang yang diwarnai keraguan, perjuangan, tugas, revisi, kegagalan, persahabatan, dan berbagai pengalaman yang membentuk karakter.

Pidato perwakilan mahasiswa oleh Linda Antika, mahasiswa FBS angkatan 2022.

“Hari ini, bertahun-tahun kemudian, kami berdiri di ruangan ini bukan lagi sebagai mahasiswa baru yang gamang, melainkan sebagai lulusan yang telah menyelesaikan perjuangan panjang itu,” ungkap Linda.

Ia menyampaikan terima kasih kepada Unikama, FBS, program studi, dosen, tenaga kependidikan, serta orang tua yang telah memberikan dukungan selama proses pendidikan.

Menurut Linda, pendidikan yang diperoleh di FBS tidak hanya memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, menghargai bahasa dan sastra, serta memahami kehidupan secara lebih luas.

Ia pun mengajak seluruh lulusan untuk terus menjaga nama baik almamater dan memberikan kontribusi positif di tengah masyarakat.

Lulusan FBS Unikama Diproyeksikan Menjadi Bagian dari Masyarakat

Menutup sambutannya, Rusfandi, S.Pd., MA., Ph.D. mengingatkan para lulusan untuk tetap menjaga hubungan dengan almamater setelah menyelesaikan studi. Para alumni diharapkan terus menjalin komunikasi dengan program studi dan fakultas serta memberikan gagasan konstruktif bagi pengembangan FBS Unikama.

Ia juga mengajak lulusan untuk menyebarluaskan pengalaman positif selama menempuh pendidikan sebagai bagian dari kontribusi alumni terhadap penguatan citra almamater.

Lebih dari sekadar seremoni akademik, Yudisium FBS Unikama Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 menjadi ruang refleksi mengenai kesiapan lulusan menghadapi dunia yang terus berubah. Sebanyak 58 lulusan tidak hanya membawa gelar akademik, tetapi juga membawa pengetahuan, keterampilan, pengalaman, nilai kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial.

“Jangan pernah berhenti belajar, karena kehidupan tak pernah berhenti memberi pelajaran,” pesan Rusfandi, S.Pd., MA., Ph.D.

Dengan bekal tersebut, para lulusan FBS Unikama diharapkan mampu melangkah sebagai insan akademik yang adaptif terhadap teknologi, kritis dalam berpikir, bijaksana dalam bertindak, serta produktif dalam memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

WhatsApp
Facebook
X
LinkedIn
Telegram
Daftar Isi
Penulis Berita
Eka Setyowati Febriyanti, S.Pd.
Staff Humas Unikama

Saya biasa dipanggil Eka dan dikenal sebagai pribadi yang kreatif. Pendidikan terakhir saya adalah Sarjana di bidang Pendidikan , namun saya juga memiliki keterampilan dalam bidang fotografi, desain dan administrasi. Berdiskusi dan belajar hal baru juga merupakan hal yang saya gemari untuk menambah keterampilan yang saya miliki.

Kategori Berita UNIKAMA
Berita Lainya

Berita Menarik UNIKAMA Lainya

WhatsApp