UNIKAMA
Monev KKN Unikama di Desa Wonokerso: Dari Program Mahasiswa Menuju Pemberdayaan Berkelanjutan

Monev KKN Unikama di Desa Wonokerso: Dari Program Mahasiswa Menuju Pemberdayaan Berkelanjutan

kkn unikama
Rektor Unikama Dorong Mahasiswa Mengembangkan Potensi Desa secara Multidisiplin pada kegiatan monev KKN.

PAKISAJI, MALANG — Direktorat Pembelajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP3M) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) melakukan monitoring dan evaluasi (monev) pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Wonokerso, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Selasa (19/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian penting untuk memastikan mahasiswa tidak sekadar menjalankan program kerja, tetapi juga memperoleh pengalaman nyata dalam membangun kolaborasi dan menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat.

Monev tersebut dihadiri Rektor Unikama, Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si. ; Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), Rusfandi, S.Pd., MA., Ph.D. ; serta Kepala Pusat Pengembangan Pembelajaran dan Magang, Dr. Agus Sholeh, S.Pd., M.Pd. Kehadiran pimpinan universitas sekaligus menjadi ruang evaluasi terhadap pelaksanaan program KKN dan peluang keberlanjutannya setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdian.

Koordinator Desa (Kordes) Wonokerso, M. Rif’an Rizqi, mahasiswa Fakultas Hukum Unikama, melaporkan bahwa pelaksanaan KKN secara umum berjalan dengan baik. Mahasiswa tidak hanya menjalankan program yang telah dirancang sebelumnya, tetapi juga melakukan penyesuaian berdasarkan hasil observasi terhadap kondisi dan potensi desa.

Tiga Program Unggulan KKN: Digitalisasi UMKM, Bokashi Plus, dan Maggot

Tiga program unggulan menjadi fokus mahasiswa KKN di Desa Wonokerso, yakni digitalisasi UMKM, pembuatan Bokashi Plus, dan budidaya maggot.

Program digitalisasi UMKM telah diselesaikan melalui pendampingan pelaku usaha dalam pemanfaatan QRIS, Nomor Induk Berusaha (NIB), Google Maps, dan Linktree. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas akses informasi, meningkatkan kemudahan transaksi, sekaligus memperkuat kehadiran UMKM desa di ruang digital.

Sementara itu, pembuatan Bokashi Plus dan budidaya maggot masih berada dalam tahap pengembangan sehingga hasil optimalnya membutuhkan waktu. Menariknya, program Bokashi Plus merupakan inovasi yang lahir dari proses observasi mahasiswa. Program tersebut sebelumnya belum tercantum dalam pengajuan awal, tetapi kemudian dikembangkan setelah mahasiswa menemukan potensi pertanian yang cukup besar di Desa Wonokerso.

Mahasiswa Unikama membudidaya magot sebagai program KKN di Desa Wonokerso, Pakisaji.

Selain program unggulan, mahasiswa KKN turut mengambil bagian dalam berbagai kegiatan masyarakat. Mereka berpartisipasi dalam persiapan lomba PBB se-Kecamatan Pakisaji dan kegiatan Pesta Siaga, serta terlibat sebagai pengibar bendera dan anggota paduan suara dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI.

“Kami juga membantu kegiatan Posyandu, TPQ, piket kantor desa dalam membantu administrasi, bersih dusun, serta menjadi panitia perlombaan dan jalan seh

at di RT 09 Dusun Wonokerso,” kata Rif’an.

Mahasiswa bahkan berkolaborasi dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pakisaji dalam Gerakan Tanam Demplot PMAAS (Pertanian Modern Agriculture Advanced System). Kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung mengenai penerapan pertanian modern yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.

Rektor: KKN Harus Menghasilkan Program yang Bisa Dilanjutkan Masyarakat

Rektor Unikama, Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si., menegaskan bahwa monev bukan semata-mata untuk melihat apakah program kerja mahasiswa telah terlaksana. Lebih dari itu, kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan KKN benar-benar memberikan pengalaman pembelajaran yang bermakna bagi mahasiswa.

“Tujuan kami melakukan kunjungan monev adalah untuk memastikan apakah mahasiswa kami yang melakukan KKN sudah benar-benar mendapatkan pengalaman di masyarakat,” ujar Prof. Sudi.

Menurutnya, program yang dijalankan mahasiswa perlu diarahkan agar memiliki keberlanjutan. Ia mencontohkan pembuatan Bokashi Plus yang tidak cukup hanya menghasilkan produk dalam skala kecil, tetapi perlu dipikirkan bagaimana manfaatnya dapat dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat secara lebih luas.

“Tidak hanya sekadar Saudara membuat pupuk plus itu, tapi bagaimana kelanjutan kebermanfaatannya. Kalau mungkin sekarang dalam jumlah kecil langsung saja dipakai oleh petani, tapi kalau nanti menjadi besar seperti apa? Nah, ini juga menjadi pemikiran-pemikiran Saudara seperti apa selanjutnya,” jelasnya.

Sambutan Rektor Unikama dalam kegiatan monev mahasiswa KKN di Desa Wonokerso, Pakisaji.

Prof. Sudi melihat Desa Wonokerso memiliki karakteristik yang menarik karena berada pada kawasan yang tidak sepenuhnya berciri pedesaan maupun perkotaan. Kondisi tersebut, menurutnya, justru membuka ruang inovasi yang luas bagi mahasiswa untuk mengidentifikasi potensi ekonomi dan sosial yang dapat dikembangkan.

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin. Dengan mahasiswa yang berasal dari berbagai bidang keilmuan, gagasan dan kompetensi yang berbeda dapat diramu menjadi program yang lebih komprehensif.

“Kalau melihat jumlah mahasiswa kita yang dikirim ke desa, 30 dari multidisiplin. Barangkali dari situ bisa kita buat program yang dari masing-masing keahlian bisa mengembangkan pikirannya, bisa menyumbangkan ide gagasannya untuk secara multidisiplin kita kemas,” ungkapnya.

Kepala Desa: Mahasiswa KKN Unikama Mampu Beradaptasi dengan Masyarakat

Kepala Desa Wonokerso, Nariyadi, S.Sos., menyampaikan apresiasi atas kehadiran Rektor Unikama beserta tim DP3M. Ia menilai keberadaan mahasiswa KKN memberikan kontribusi positif bagi berbagai kegiatan desa.

Menurut Nariyadi, S.Sos, program kerja mahasiswa pada dasarnya telah berjalan dan sebagian besar telah diselesaikan. Namun, mahasiswa masih dibutuhkan untuk mendukung berbagai agenda masyarakat yang akan berlangsung selama masa KKN.

“Kami juga sangat terbantu dengan kehadiran anak-anak di sini. Mudah-mudahan di tahun-tahun depan ada lagi KKN dari Unikama yang di Desa Wonokerso ini,” tuturnya.

Ia secara khusus mengapresiasi kemampuan mahasiswa dalam beradaptasi dan bersosialisasi dengan masyarakat. Keterlibatan mahasiswa dalam upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI juga menjadi salah satu bentuk kontribusi yang dirasakan langsung oleh pemerintah desa.

Nariyadi, S.Sos. juga berharap kolaborasi tidak berhenti pada pelaksanaan KKN. Ia membuka peluang agar kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dosen Unikama dapat diarahkan ke Desa Wonokerso.

“Kami juga menginginkan bilamana ada pengabdian masyarakat dosen, bisa diarahkan ke Desa Wonokerso,” katanya.

Menurutnya, kehadiran dosen dan peneliti dapat memberikan dampak lebih luas terhadap pengembangan masyarakat serta berbagai potensi yang dimiliki desa.

Membangun Keberlanjutan Setelah Mahasiswa Kembali ke Kampus

Monev KKN di Desa Wonokerso menunjukkan bahwa keberhasilan pengabdian mahasiswa tidak hanya diukur dari jumlah program yang selesai dilaksanakan. Nilai penting KKN justru terletak pada kemampuan mahasiswa membaca kebutuhan masyarakat, beradaptasi dengan kondisi lokal, membangun kolaborasi, serta meninggalkan pengetahuan dan sistem yang dapat diteruskan.

Dengan sisa masa KKN yang masih berlangsung, Rektor Unikama mendorong mahasiswa untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat. Program yang telah dirintis diharapkan tidak berhenti ketika mahasiswa kembali ke kampus.“Saudara tidak sekadar membuat, tetapi bagaimana Saudara nanti bisa mengajak warga, pengurus kepemudaan untuk nanti bisa melanjutkan. Ada training, ada pembekalan bagi mereka. Begitu nanti Saudara tinggalkan, ini masih bisa berjalan,” tegas Prof. Sudi.

Kolaborasi antara Unikama, mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi fondasi penting untuk membangun model KKN yang berdampak. Desa Wonokerso tidak hanya menjadi ruang belajar bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi mitra strategis dalam menguji dan menerapkan ilmu pengetahuan secara langsung.

Melalui pendekatan multidisiplin dan orientasi keberlanjutan, KKN Unikama diharapkan mampu melahirkan inovasi yang tidak berhenti sebagai program sesaat, melainkan berkembang menjadi praktik pemberdayaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Wonokerso.

WhatsApp
Facebook
X
LinkedIn
Telegram
Daftar Isi
Penulis Berita
Eka Setyowati Febriyanti, S.Pd.
Staff Humas Unikama

Saya biasa dipanggil Eka dan dikenal sebagai pribadi yang kreatif. Pendidikan terakhir saya adalah Sarjana di bidang Pendidikan , namun saya juga memiliki keterampilan dalam bidang fotografi, desain dan administrasi. Berdiskusi dan belajar hal baru juga merupakan hal yang saya gemari untuk menambah keterampilan yang saya miliki.

Kategori Berita UNIKAMA
Berita Lainya

Berita Menarik UNIKAMA Lainya

WhatsApp