Unikama, 7 September 2026 – Karyawan Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) mengikuti sosialisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dengan tajuk “Budayakan K3, Ciptakan Lingkungan Kerja yang Aman, Sehat, Nyaman dan Produktif”. Kegiatan yang digelar pada Senin, 7 September 2026, di Ruang Abd. Rajab Universitas PGRI Kanjuruhan Malang ini menghadirkan narasumber internal, Dimas Haryo Pamungkas, SH., M.Hum., selaku Kepala Biro Administrasi Umum.
Berbeda dengan agenda pada umumnya, sosialisasi ini menegaskan bahwa K3 bukanlah kepentingan pribadi atau individu semata, melainkan kepentingan bersama yang harus diinternalisasi oleh seluruh elemen kampus. Dalam sambutannya, narasumber mengingatkan bahwa kecelakaan kerja tidak mengenal jabatan—dan pencegahan hanya bisa terwujud jika budaya keselamatan hidup di setiap lini.
Mengapa Budaya K3 Harus Menjadi Fondasi Setiap Institusi
K3 sebagai Investasi Jangka Panjang, Bukan Beban Administratif
Keselamatan dan Kesehatan Kerja sering kali dipandang sebagai dokumen prosedur yang bersifat normatif. Padahal, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen K3, penerapan K3 adalah bentuk tanggung jawab moral dan hukum institusi terhadap sumber daya manusianya.
Dimas Haryo Pamungkas menyampaikan bahwa lingkungan kerja yang aman dan sehat secara langsung berdampak pada produktivitas dan kenyamanan bekerja. “K3 bukan untuk memenuhi syarat audit. Ini adalah fondasi agar setiap orang bisa bekerja tanpa rasa cemas akan keselamatan dirinya,” ujarnya di hadapan peserta.
Tanggung Jawab Kolektif, Bukan Sekadar Tugas Tim K3
Salah satu poin utama yang ditekankan dalam sosialisasi ini adalah bahwa keselamatan kerja adalah urusan semua orang, mulai dari tenaga kependidikan, dosen, hingga petugas kebersihan. Peserta diajak untuk tidak menunggu perintah, melainkan proaktif menciptakan lingkungan yang bebas dari potensi bahaya.
“Ketika kita melihat kabel terburai, lantai licin, atau alat yang rusak, itu adalah tanggung jawab kita bersama untuk melaporkan dan memperbaikinya,” tegas Dimas.
Materi Inti Sosialisasi: Dari Mitigasi Kebakaran hingga Jalur Evakuasi
Teknik Penggunaan APAR yang Tepat dan Cepat
Materi teknis pertama yang disampaikan adalah tata cara menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Peserta diberikan pemahaman mengenai jenis-jenis APAR (karbondioksida, bubuk kimia kering, dan busa) serta fungsinya sesuai dengan klasifikasi kebakaran (kelas A, B, C, dan listrik).
Praktik simulasi menekankan pada teknik PASS (Pull, Aim, Squeeze, Sweep) sebagai prosedur baku pemadaman api skala kecil. Narasumber mengingatkan bahwa ketenangan dan kecepatan bertindak adalah kunci utama saat menghadapi kebakaran dini.
Langkah-Langkah Evakuasi dan Pengenalan Titik Kumpul
Selain pemadaman, peserta juga dibekali pengetahuan tentang prosedur evakuasi darurat. Materi ini mencakup:
- Cara membaca peta jalur evakuasi yang terpasang di setiap gedung kampus.
- Larangan menggunakan lift saat terjadi gempa atau kebakaran.
- Lokasi titik kumpul (assembly point) yang telah ditentukan di area terbuka Unikama.
- Prosedur komunikasi darurat melalui jalur resmi kampus dan koordinasi dengan petugas keamanan.
“Jika kita panik, informasi menjadi kacau, dan evakuasi menjadi tidak terarah. Maka dari itu, latihan rutin dan penguasaan jalur evakuasi adalah harga mati,” jelas Dimas.

Persiapan Tanggap Bencana di Lingkungan Kampus
Mengantisipasi Bencana Berbasis Risiko Lokal
Sebagai kawasan yang berada di wilayah dengan potensi bencana hidrometeorologi dan geologi, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang secara berkala memperbarui peta risiko bencana internal. Dalam sosialisasi ini, peserta diberikan ceklist kesiapsiagaan individu, antara lain:
- Mengetahui lokasi terdekat dari alat pemadam dan kotak P3K.
- Menyiapkan tas siaga darurat di area kerja.
- Memahami tanda peringatan dini (alarm kebakaran, sirine gempa).
- Mengikuti simulasi evakuasi secara berkala.
Peran Aktif Pegawai dalam Keselamatan Kolektif
Peserta juga diedukasi bahwa kesiapsiagaan bukan hanya milik petugas keamanan, melainkan keterlibatan aktif setiap pegawai. Ketika setiap orang memahami prosedur dan posisi masing-masing, maka respons terhadap bencana menjadi lebih cepat dan terkoordinasi.
Membangun Budaya Aman dari Hal-Hal Sederhana
Kebersihan dan Perawatan Fasilitas sebagai Bentuk Pencegahan Dini
Penerapan K3 tidak selalu dimulai dari prosedur besar, melainkan dari kebiasaan kecil seperti:
- Menjaga area kerja tetap bersih dan rapi.
- Memastikan kabel listrik tidak berserakan dan tidak overload.
- Mengecek kondisi kursi, meja, dan tangga secara rutin.
- Melaporkan kerusakan fasilitas segera ke unit sarana prasarana.
Edukasi Berkelanjutan untuk Perubahan Perilaku
Kegiatan ini bukan kali pertama Unikama mengadakan sosialisasi K3. Ke depan, kampus berencana mengadakan pelatihan lanjutan dan simulasi gabungan dengan melibatkan mahasiswa dan tenaga pendukung lainnya.
K3 Adalah Kepentingan Kita Bersama
Kesadaran yang Berbuah pada Produktivitas dan Kenyamanan

Di akhir sesi, Dimas Haryo Pamungkas kembali menegaskan bahwa tujuan akhir dari budaya K3 adalah terciptanya lingkungan kerja yang tidak hanya aman, tetapi juga sehat, nyaman, dan produktif. “Keselamatan bukan milik satu orang. Ketika satu celah dibiarkan, risiko mengancam kita semua. Mari kita jadikan K3 sebagai napas kerja kita sehari-hari,” pungkasnya.
Dengan diadakannya sosialisasi ini, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya mencetak lulusan unggul, tetapi juga menjadi institusi yang peduli terhadap keselamatan seluruh warganya. Diharapkan, pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti di ruang seminar, tetapi terimplementasi nyata di setiap sudut kampus.


