UNIKAMA
Pentingnya Psikologi Komunikasi Anak: Kaprodi PG-PAUD Unikama Bagikan Kunci Pengasuhan Tanpa Bentakan

Pentingnya Psikologi Komunikasi Anak: Kaprodi PG-PAUD Unikama Bagikan Kunci Pengasuhan Tanpa Bentakan

UNIKAMA, Kota Malang, (3/10/2026) – Memahami perkembangan emosi dan psikologi anak menjadi landasan utama dalam membentuk karakter serta mental generasi mendatang. Guna mengedukasi para pendidik dan orang tua mengenai seni berkomunikasi dengan anak denganrasa dan empati, Yayasan Hamalatul Quran Amanah – Quranic Daycare Rutaba Sukun, Kota Malang, sukses menyelenggarakan workshop psikologi komunikasi anak. Workshop ini menghadirkan Dr. Siti Muntomimah, M.Pd., seorang pakar pendidikan anak usai dini yang juga menjabat sebagai Kepala Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Dini (PG-PAUD) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama).

Melalui kolaborasi kepakaran dari PG-PAUD Unikama, kegiatan workshop ini memberikan pandangan mendalam mengenai tahapan emosi anak, komunikasi berbasis empati, hingga teknik manajemen perilaku yang efektif untuk diterapkan di lingkungan keluarga maupun lembaga pendidikan.

Workshop Psikologi Komunikasi PG-PAUD Unikama Bedah Dampak Buruk Membentak Anak

Dalam paparan utamanya, Dr. Siti Muntomimah, M.Pd. selaku Kaprodi PG-PAUD Unikama menegaskan bahwa kebiasaan membentak anak dapat menimbulkan efek destruktif pada psikologis dan tumbuh kembang anak. Banyak orang tua atau pendidik tidak menyadari bahwa suara keras bernada ancaman menciptakan “luka tak kasatmata” yang tersimpan dalam memori jangka panjang sang anak.

Para pakar di PG-PAUD Unikama menyoroti lima dampak buruk utama akibat bentakan yang sering dialami oleh anak usia dini:

  1. Kecemasan Berlebihan (Anxiety): Anak yang sering dibentak hidup dalam kondisi waspada tinggi secara terus-menerus.
  2. Ketakutan Mengambil Keputusan: Bentakan mematikan keberanian anak untuk bereksplorasi dan mencoba hal baru karena takut berbuat salah.
  3. Krisis Kepercayaan Diri: Rasa percaya diri anak tergerus akibat penilaian negatif yang diterima melalui bentakan.
  4. Kesulitan Meregulasi Emosi: Anak tidak belajar cara menenangkan diri, melainkan meniru pola komunikasi agresif yang dicontohkan orang dewasa.
  5. Kemelekatan Trauma (Trauma Attachment): Respon emosional negatif membekas hingga anak menginjak usia dewasa dan mempengaruhi hubungan interpersona di masa depan.

Oleh karena itu, edukasi yang diusung oleh PG-PAUD Unikama ini menekankan pentingnya menghentikan budaya membentak demi menciptakan lingkungan tumbuh kembang anak yang aman dan sehat.

Membangun Rasa Aman dan Kerjasama Anak Menurut Pakar PG-PAUD Unikama

Fisiologi Kehadiran dan Empati Berbasis Tubuh

Dr. Siti Muntomimah, M.Pd. dari PG-PAUD Unikama menjelaskan bahwa sebelum anak mau diajak berdiskusi atau bekerjasama, mereka harus merasakan rasa aman terlebih dahulu. Rasa aman ini tidak hanya hadir lewat kata-kata, melainkan dari fisiologi kehadiran orang dewasa di sekitar anak. Empati sejati selalu dimulai dari bahasa tubuh yang menenangkan.

Dalam materi workshop PG-PAUD Unikama di Rutaba Sukun Malang ini, dipaparkan empat elemen penting dalam membangun fisiologi kehadiran:

  • Eye Level Contact: Menyelaraskan posisi mata dengan anak saat berbicara untuk menghilangkan impresi dominasi atau intimidasi.
  • Bahasa Tubuh yang Terbuka: Menghindari gestur tubuh yang kaku, bertolak pinggang, atau menunjuk-nunjuk.
  • Sentuhan Kasih Sayang: Memberikan pelukan, usapan lembut pada bahu, atau sentuhan hangat untuk menenangkan sistem saraf anak.
  • Lingkungan yang Kondusif: Menyediakan ruang fisik yang tenang dan bebas dari gangguan emosional yang memicu kepanikan.

Melalui pendekatan terapan dari PG-PAUD Unikama, orang tua diajarkan cara menurunkan ketegangan fisik sebelum memulai interaksi verbal dengan anak.

Neurosains Komunikasi: Mengaktifkan Prefrontal Cortex (PFC) Melalui Ketenangan

Peran Amygdala dan Pengendalian Emosi Anak Menurut Dosen Unikama

Secara neurosains, Dr. Siti Muntomimah, M.Pd. yang memimpin prodi PG-PAUD Unikama membeberkan apa yang terjadi pada otak anak ketika sedang menangis histeris atau mengalami tantrum. Komunikasi dengan suara keras dan nada tinggi justru akan memperbesar respon ancaman pada area Amygdala (pusat emosi dan rasa takut di otak).

Ketika Amygdala terstimulasi secara berlebihan oleh bentakan, bagian Prefrontal Cortex (PFC)—yang bertanggung jawab atas logika, pemecahan masalah, dan regulasi diri—akan nonaktif (shutdown). Akibatnya, anak tidak akan mampu menyerap pesan moral atau nasihat sebaik apa pun yang disampaikan oleh orang tua saat itu.

Kunci utama yang disampaikan oleh pemateri dari PG-PAUD Unikama adalah ketenangan yang dihadirkan dari orang dewasa dilingkungan sekitarnya. Dengan menjaga nada suara tetap tenang, bernapas teratur, dan menunjukkan kontrol emosi yang baik, orang tua membantu menenangkan Amygdala anak sehingga Prefrontal Cortex (PFC) dapat aktif kembali. Setelah PFC aktif, barulah anak mampu diajak berpikir rasional, diajak bekerjasama, dan memahami konsekuensi perilaku.

Dr. Siti Muntomimah, M.Pd bersama dengan para ustadzah dan pengurus dari Yayasan Hamalatul Quran Amanah – Quranic Daycare Rutaba Sukun, Kota Malang.

Komitmen PG-PAUD Unikama dalam Pengabdian Masyarakat dan Edukasi Pengasuhan

Kehadiran Kaprodi PG-PAUD Unikama dalam workshop di Quranic Daycare Rutaba Sukun Kota Malang ini merupakan wujud nyata komitmen civitas akademika Unikama dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pengabdian kepada masyarakat.

Program Studi PG-PAUD Unikama terus berupaya menjadi pusat keunggulan (center of excellence) dalam pengembangan pendidikan anak usia dini dan pola pengasuhan (parenting) berbasis riset neurosains serta psikologi perkembangan. Melalui kegiatan edukasi publik secara berkesinambungan, PG-PAUD Unikama berharap dapat mencetak generasi pendidik dan orang tua yang cerdas secara emosional demi melahirkan generasi emas Indonesia yang sehat mental dan berkarakter kuat.

WhatsApp
Facebook
X
LinkedIn
Telegram
Pencarian
Daftar Isi
Penulis Berita
Ramadhan Satria Adi Pradana, S.Ikom
Staff Humas Unikama

Saya sangat menyukai hal hal baru dalam dunia kreatif. Ketertarikan terhadap perkembangan ilmu komunikasi dan media massa membuat saya ingin terus belajar lebih jauh lagi. Bersikap terbuka, berfikir kreatif, kompeten dalam lingkungan kerja yang dinamis, berintegritas dan mengedepankan profesionalisme kerja merupakan prioritas utama dalam meniti karir.

Kategori Berita UNIKAMA
Berita Lainya

Berita Menarik UNIKAMA Lainya

Scroll to Top
WhatsApp