Menu

Tempa Soft Skill Mahasiswa, Unikama Tidak Mau Lulusannya Jadi Sumbu Pendek

UNIKAMA – Masa muda, masa yang berapi-api, yang maunya menang sendiri, walau salah tak peduli. Penggalan lirik lagu Rhoma Irama di atas nampaknya tepat menggambarkan kehidupan para remaja, khususnya bagi remaja yang sedang meniti bangku kuliah.

Remaja memang terkadang masih sulit mengendalikan emosinya. Berbagai cara pun dilakukan untuk mengedukasi para remaja agar sanggup mengendalikan emosi menjelang mereka dewasa. Salah satunya yang diadakan Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) di Auditorium Multikultural kemarin.

Dalam acara yang diadakan oleh Pusat Konseling dan Testing Universitas Kanjuruhan Malang ini mengajak seluruh mahasiswa Unikama dari berbagai Program Studi (Prodi) untuk bisa ikut seminar pengendalian diri. Dengan output agar mahasiswa mampu mengenali emosi, bagaimana me-manage emosi, hingga merencanakan kegiatan-kegiatan apa yang bisa dilakukan sebagai upaya menyalurkan emosi.

“Kegiatan yang positif tentunya. Sebenarnya ini juga upaya kami untuk mengajak mahasiswa agar bisa mengendalikan emosi mereka sedini mungkin. Ini penting, karena nanti jika mereka sudah memasuki dunia kerja, akan berguna, apalagi saat interview kerja,” urai Eva Kartika Wulan Sari, M.Pd Kons, Ketua Pusat Konseling dan Testing Unikama.

Menurutnya, ada beberapa mahasiswa yang punya potensi akademik, namun lemah di pengendalian diri atau penguasaan diri. “Kadang ada mahasiswa yang unggul di akademik, akan tetapi dia akhirnya gagal karena dia tidak bisa me-manage emosinya,” tambahnya.

Tiap prodi mengirim 10 hingga 15 mahasiswa untuk ikuti seminar bertajuk Pelatihan Manajemen Emosi kali ini. Dengan target diikuti jumlah mahasiswa 150 peserta, ternyata yang hadir justru membludak hingga 200 lebih mahasiswa.

“Saya lihat antusiasime mahasiswa akan hal ini tinggi sekali, dan saya senang. Itu artinya mereka banyak yang sadar jika soft skill itu juga penting saat memasuki dunia kerja,” tutur Eva.

Sementara itu, pemateri Robik Anwar Dani, M.Psi, dosen yang juga seorang psikolog menyampaikan materi dengan baik. Para mahasiswa diajari menghadapi berbagai masalah psikologi mulai marah, sedih, hingga cara menangani.

“Saya yakin mahasiswa Unikama adalah mahasiswa yang bisa mengontrol emosinya. Tidak melakukan orasi yang sifatnya negatif karena kalian insan akademisi yang nanti punya gelar akademik,” tegas Robik dihadapan mahasiswa.

Acara yang diadakan ini juga mengajak mahasiswa untuk menulis apa saja hal yang sering membuat marah. Nantinya, para psikolog akan membantu dengan cara konseling mahasiswa yang beruntung.

“Menurut saya, tiap emotions itu pasti ada sisi positif dan negatifnya, tinggal bagaimana kita menyiasatinya saja,” tutup pemateri. (erma)