UNIKAMA
Strategi Perkasa Unikama Menyikapi Permendiktisaintek No. 9 Tahun 2026

Strategi Perkasa Unikama Menyikapi Permendiktisaintek No. 9 Tahun 2026

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) menggelar agenda strategis bertajuk Sosialisasi dan Strategi Peningkatan Akreditasi Jurnal Ilmiah Sesuai Permendiktisaintek Nomor 9 Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung intensif ini diselenggarakan sebagai langkah responsif dan proaktif perguruan tinggi dalam menyikapi terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Permendiktisaintek) Nomor 9 Tahun 2026. Regulasi terbaru ini membawa perubahan paradigma yang sangat fundamental dalam peta jalan akreditasi jurnal ilmiah nasional, penataan Indikator Kinerja Utama (IKU), hingga mekanisme penilaian reputasi akademik perguruan tinggi di Indonesia. Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, ketua program studi, pengelola jurnal, editor, reviewer, serta para akademisi lintas disiplin ilmu. Unikama menghadirkan, Dr. Sugeng Hariyanto, S.E., M.M., sebagai pemateri utama untuk membedah strategi teknis, taktik editorial, dan penyesuaian kebijakan pengelolaan jurnal bereputasi.

Pemaparan Sosialisasi dan Strategi Peningkatan Akreditasi Jurnal Ilmiah oleh Dr. Sugeng Hariyanto, S.E., M.M.

Dalam sambutan pembukanya, Direktur LPPM Unikama, Prof. Dr. Mujiono, S.Pd., S.Ag., M.Pd., menegaskan bahwa Permendiktisaintek Nomor 9 Tahun 2026 menuntut pergeseran fokus yang signifikan dalam pengelolaan jurnal ilmiah. Jika pada aturan-aturan sebelumnya penilaian sangat ditopang oleh kelengkapan administratif dan kontinuitas jadwal terbit, regulasi tahun 2026 ini menempatkan substansi naskah serta etika publikasi (publication ethics) di pilar tertinggi. “Tapi untuk yang 2026 ini, InsyaAllah lebih kepada substansi dari naskah yang dikirim bukan hanya sekadar kontinuitas dari penerbitan, tidak, tapi ada integritas dari penerbit. Sehingga author-author atau penulis-penulis yang sifatnya ada unethical authorship itu sudah dianggap nol di sana, nilainya tidak ada,” tegas Profesor Mujiono.

Profesor Mujiono juga menyoroti aspek ketatnya penilaian terhadap keabsahan serta kriteria khusus penulis. Salah satu poin krusial yang kerap menjadi sandungan bagi dosen dan pengelola jurnal adalah pemenuhan syarat khusus kenaikan jabatan akademik maupun akreditasi. “Misalkan untuk penulis itu jangan satu. Jadi otomatis kalau itu dijadikan sebagai syarat khusus, sudah langsung nilainya nol kalau itu nanti ada penulis tunggal, itu misalkan mungkin tidak diterima, karena itu nanti akan useless,” tambah Profesor Mujiono mengingatkan agar sistem peer-review dan kolaborasi penulis benar-benar ditegakkan.

Sementara itu, Wakil Rektor I Unikama, Dr. Choirul Huda, M.Si., memberikan arahan strategis mengenai bagaimana perguruan tinggi harus merespons dinamika regulasi yang bergerak sangat cepat. Menurutnya, dalam ekosistem pendidikan tinggi saat ini terutama yang berkaitan erat dengan Permendiktisaintek No. 9 Tahun 2026 dan formulasi 12 IKU baru ada tiga kata kunci utama yang wajib diintegrasikan oleh seluruh unit pengelola karya ilmiah. “Yang pertama adalah inklusi. Yang kedua, adaptif. Yang berikutnya adalah berdampak.” papar Dr. Choirul Huda.

Sesi pemaparan sosialisasi yang dihadiri oleh dosen dari berbagai lintas ilmu.

Penjelasan mendalam mengenai ketiga pilar tersebut menekankan bahwa Inklusi (Inklusivitas), Jurnal ilmiah tidak boleh menjadi “menara gading” atau bersifat eksklusif untuk lingkaran internal kampus saja. Perluasan akses, keterbukaan bagi penulis luar, serta kemudahan kolaborasi lintas instansi menjadi parameter penting. Adaptif, Pengelola jurnal dituntut fleksibel dan cepat tanggap terhadap perkembangan teknologi serta regulasi baru yang sering kali berubah dinamis. Berdampak, Artikel ilmiah yang diterbitkan tidak boleh berhenti sekadar menjadi deretan angka kredit atau artefak digital, melainkan harus memberikan dampak nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu sorotan paling tajam dalam diskusi ini adalah fenomena penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam penulisan karya ilmiah. Dr. Choirul Huda menegaskan bahwa kehadiran teknologi Generative AI menciptakan tantangan baru berupa maraknya fabrikasi artikel instan yang berpotensi merusak iklim akademis jika tidak diantisipasi dengan kecanggihan tata kelola editorial. “Jurnal itu bukan sekadar hanya mencerminkan produktivitas. Kalau kita berpegang produktivitas gampang, Bapak Ibu. Tapi tantangan sekarang itu dalam pengelolaan jurnal adalah fabrikasi artikel. Fabrikasi artikel melalui AI dan lain-lain itu wow banget, Bapak Ibu. Jadi kalau kita tidak canggih-canggih banget ya sudah bisa-bisa artikel kita itu pengarangnya bukan manusia semua,” ujar Dr. Choirul Huda.

Oleh karena itu, Unikama berkomitmen memperkuat benteng integritas akademiknya. Penggunaan tools AI dalam batas wajar sebagai alat bantu analisis memang tidak bisa dihindari, namun pemalsuan data, pemiskinan karsa manusia, serta fabrikasi naskah secara utuh (ghostwriting AI) harus dideteksi dan ditindak tegas sejak tahapan desk screening. “Harapan kami, tata kelola tetap, tanggung jawab, dan integritas harus tetap kita utamakan. Jurnal bukanlah sekadar menunjukkan indikator produktivitas, tapi integritas juga daya saing. Tetap integritas yang disampaikan, dampaknya, serta tanggung jawab moral akademik tetap dipegang,” tutur Dr. Choirul Huda mengakhiri arahannya.

Pada sesi inti sosialisasi, pemateri Dr. Sugeng Hariyanto, S.E., M.M., membedah secara mendalam teknis operasional dan penyesuaian instrumen akreditasi berdasarkan Permendiktisaintek No. 9 Tahun 2026. Dalam pemaparannya, beliau menggarisbawahi beberapa langkah konkret yang harus diambil oleh setiap pengelola jurnal ilmiah di Unikama. Proses penelaahan oleh mitra tidak boleh lagi sekadar formalitas. Komentar substansial mengenai metodologi, kebaruan (novelty), serta validitas data menjadi poin krusial yang dinilai oleh penilai akreditasi nasional. Penggunaan sistem manajemen jurnal berbasis Open Journal Systems (OJS) harus dioptimalkan. Rekam jejak penyuntingan, komunikasi antara editor, reviewer, dan penulis wajib terekam secara transparan. Mengikis dominasi penulis internal guna memenuhi standar inklusivitas dan keberagaman afiliasi secara nasional maupun internasional. Penerapan kebijakan anti-plagiarisme yang ketat, pencegahan gift authorship, serta verifikasi mendalam terhadap keaslian riset yang diajukan. Penyelenggaraan agenda sosialisasi dan pendampingan ini menjadi bukti nyata komitmen Unikama dalam mengawal mutu pendidikan tinggi di Indonesia. Melalui pemahaman yang komprehensif terhadap Permendiktisaintek No. 9 Tahun 2026, Unikama optimis mampu meningkatkan peringkat akreditasi jurnal-jurnal ilmiah yang dikelolanya baik yang saat ini menuju Sinta 3, Sinta 2, maupun yang disiapkan menuju indeksasi internasional bereputasi seperti Scopus dan Web of Science. Dengan memadukan inklusivitas layanan, sikap adaptif terhadap kemajuan teknologi, serta integritas riset yang berfokus pada keberdampaian publik, Unikama siap melahirkan karya-karya ilmiah berkualitas tinggi yang kredibel, akuntabel, dan berdaya saing di kancah global.

Topik :
WhatsApp
Facebook
X
LinkedIn
Telegram
Daftar Isi
Penulis Berita
Tim Redaksi Berita UNIKAMA
Kategori Berita UNIKAMA
Berita Lainya

Berita Menarik UNIKAMA Lainya

WhatsApp