Di balik aliran uang yang masuk dan keluar, terlihat bagaimana sebuah usaha berjalan. Kesadaran ini menjadi fokus dalam kegiatan sosialisasi manajemen keuangan yang diselenggarakan untuk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bekerja sama dengan Bank Mandiri Cabang Sukun.
Mengupas tuntas bagaimana kegiatan mahasiswa KKN Universitas PGRI Kanjuruhan Malang ini menjadi momentum penting bagi peningkatan literasi keuangan UMKM di Desa Gunungsari, Tajinan, serta bagaimana peran kolaborasi antara akademisi, perbankan, dan masyarakat dalam membangun ekosistem usaha yang lebih tangguh dan berdaya saing.
Latar Belakang Kegiatan Sosialisasi Manajemen Keuangan UMKM
Pentingnya Literasi Keuangan bagi Pelaku Usaha Kecil
Kegiatan sosialisasi ini dilandasi oleh pemahaman bahwa kelangsungan usaha tidak hanya bergantung pada kemampuan menjual, tetapi juga pada pengelolaan keuangan yang terencana. Banyak pelaku UMKM yang memiliki produk berkualitas dan omzet menjanjikan, namun gagal bertahan karena tidak mampu mengelola arus kas dengan baik.
Oleh karena itu, acara yang diselenggarakan pada Rabu, 26 September 2026 dengan tema “Meningkatkan Literasi Keuangan untuk Mewujudkan UMKM yang Tangguh, Mandiri, dan Berdaya Saing” menjadi jawaban atas kebutuhan mendesak tersebut. Acara ini dihadiri langsung oleh masyarakat Desa Gunungsari Tajinan, terutama pemilik UMKM, mahasiswa KKN UNIKAMA, dan pihak perwakilan dari Bank Mandiri.
Kolaborasi Tiga Pilar: Akademisi, Perbankan, dan Masyarakat
Kehadiran mahasiswa KKN Universitas PGRI Kanjuruhan Malang dalam kegiatan ini menunjukkan sinergi antara dunia pendidikan dan sektor usaha. Mahasiswa tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga agen perubahan yang membantu mendampingi pelaku UMKM dalam memahami materi yang disampaikan. Sementara itu, keterlibatan Bank Mandiri Cabang Sukun memberikan akses langsung terhadap layanan perbankan dan solusi keuangan digital yang relevan.
Materi Inti Sosialisasi: Perencanaan, Proses, dan Evaluasi Keuangan
Perencanaan Keuangan sebagai Fondasi Usaha
Para peserta diperkenalkan pada pentingnya menyusun rencana keuangan sebelum menjalankan usaha. Perencanaan ini mencakup penetapan tujuan keuangan jangka pendek dan panjang, alokasi modal, serta proyeksi pendapatan dan pengeluaran. Dengan perencanaan yang matang, pelaku UMKM dapat menghindari risiko kebocoran anggaran dan mengambil keputusan bisnis yang lebih tepat.
Proses Pengelolaan Keuangan yang Disiplin
Setelah perencanaan, langkah berikutnya adalah menjalankan proses pengelolaan dengan disiplin. Bagi sebagian pelaku UMKM, mencatat keuangan mungkin tampak sederhana. Namun dari catatan itu, mereka dapat melihat kondisi bisnis secara jelas, mulai dari jumlah pendapatan, besar pengeluaran, hingga kemampuan mengelola laba.
Seorang peserta, Sarianti, pemilik UMKM, mengaku mendapatkan wawasan baru. “Pengetahuan tentang perencanaan, proses, terus evaluasi awalnya keuangan itu, kasus bisnis,” ujarnya. Wawasan tersebut mendorongnya untuk mulai mencatat keuangan usahanya. “Ya, karena awalnya kita bisa tahu pengeluaran berapa, pemasukan berapa, kita kan bisa manage,” tambahnya.
Evaluasi Keuangan sebagai Cermin Kesehatan Usaha
Evaluasi menjadi tahap terakhir yang tidak kalah penting. Melalui evaluasi berkala, pelaku UMKM dapat mengukur apakah strategi keuangan yang dijalankan sudah efektif atau perlu penyesuaian. Catatan pemasukan dan pengeluaran menjadi dasar evaluasi perkembangan usaha, sehingga setiap keputusan bisnis didasarkan pada data, bukan sekadar perkiraan.
Pengenalan QRIS sebagai Solusi Pembayaran Digital
Mengapa UMKM Perlu Beralih ke Pembayaran Non-Tunai?
Tak hanya pencatatan keuangan, sosialisasi bersama Bank Mandiri Cabang Sukun juga memperkenalkan QRIS Quick Response Code Indonesian Standard sebagai alternatif pembayaran digital bagi pelaku UMKM. QRIS dinilai memudahkan transaksi, terutama karena masyarakat semakin akrab dengan metode non-tunai.
Perwakilan Bank Mandiri Cabang Sukun menyampaikan, “Kami berharap melalui kegiatan ini masyarakat Desa Gunungsari mendapatkan wawasan bahwa untuk menyediakan QRIS saat ini sudah semakin mudah. QRIS dapat menjadi salah satu solusi bagi pelaku UMKM untuk menerima pembayaran dari pelanggan dengan lebih praktis, cepat, dan mudah, sehingga transaksi usaha dapat berjalan lebih nyaman.”
Minat Positif Pelaku UMKM terhadap Teknologi Digital
Para peserta menyatakan tertarik menggunakan QRIS untuk usaha mereka. Salah satu pertimbangan utama adalah kemudahan transaksi karena pelaku usaha tidak lagi perlu menyiapkan uang kembalian. Ulfia, pemilik UMKM, mengungkapkan, “Sebenarnya ya tertarik. Berhubung ada kendala kan, soalnya kalau pakai QRIS kan enak, kita nggak perlu menyiapkan uang kembalian. Ya, zaman sekarang banyak orang yang tidak bawa uang cash, jadi mengandalkan transfer QRIS saja.”
Minat ini menggambarkan bahwa kebutuhan UMKM kini tidak hanya soal pengelolaan uang secara tradisional, tapi juga kemampuan beradaptasi terhadap teknologi pembayaran. QRIS menjadi opsi yang patut dipertimbangkan untuk memberi kemudahan bagi pelanggan.

Dampak dan Harapan dari Kegiatan Sosialisasi
Mendorong Kebiasaan Pengelolaan Keuangan yang Rapi
Melalui kegiatan ini, diharapkan pelaku UMKM mulai membiasakan diri mengelola keuangan dengan lebih rapi. Pencatatan pemasukan dan pengeluaran menjadi dasar evaluasi perkembangan usaha, sementara penerapan pembayaran digital menjadi langkah adaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen.
Peran Bank Mandiri dalam Mendukung UMKM Naik Kelas
Kolaborasi dengan Bank Mandiri Cabang Sukun memberikan nilai tambah karena peserta tak hanya belajar pengelolaan keuangan, tetapi juga dikenalkan pada layanan keuangan digital yang relevan dengan kebutuhan usaha saat ini. Hal ini sejalan dengan misi Bank Mandiri untuk mendorong inklusi keuangan dan pemberdayaan UMKM di seluruh Indonesia.
Langkah Kecil Menuju Usaha yang Berkelanjutan
Akhirnya, mengelola usaha bukan hanya soal banyaknya produk yang laku, melainkan juga bagaimana setiap rupiah dikelola dengan bijak. Dari catatan sederhana hingga keberanian mencoba pembayaran digital, langkah-langkah kecil itu bisa menjadi bagian penting dalam perjalanan UMKM menuju usaha yang lebih tertib, adaptif, dan berkelanjutan.
Kegiatan sosialisasi manajemen keuangan yang diinisiasi oleh mahasiswa KKN UNIKAMA di Desa Gunungsari Tajinan ini membuktikan bahwa peningkatan literasi keuangan bukanlah hal yang instan, tetapi proses berkelanjutan yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Dengan perencanaan yang matang, proses pencatatan yang disiplin, evaluasi berkala, serta adaptasi terhadap teknologi pembayaran digital seperti QRIS, pelaku UMKM dapat memperkuat fondasi usaha mereka.
Harapannya, generasi muda atau dalam hal ini mahasiswa dapat terus digalakkan di berbagai daerah agar semakin banyak pelaku UMKM yang sadar akan pentingnya mengelola keuangan secara profesional. Karena pada akhirnya, UMKM yang tangguh dan mandiri adalah fondasi utama bagi perekonomian nasional yang sehat dan berdaya saing.


