Unikama – Persoalan limbah makanan (food waste) selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar dalam upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Setiap hari, hotel, restoran, UMKM kuliner, hingga rumah tangga menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar yang sebagian besar berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Padahal, limbah tersebut masih memiliki potensi ekonomi dan lingkungan yang sangat besar apabila dikelola dengan tepat.
Berangkat dari kondisi tersebut, Grand Mercure Malang Mirama bersama Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Local Preneur Indonesia, dan PeopleHub menginisiasi gerakan Beyond Waste: Transforming Food Waste into Sustainable Impact dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Grand Mercure Malang Mirama ini menjadi wadah kolaborasi antara dunia akademik, industri hospitality, pelaku UMKM, dan masyarakat untuk membangun kesadaran sekaligus menghadirkan solusi nyata dalam pengelolaan limbah makanan berbasis ekonomi sirkular.
Dari Sampah Menjadi Sumber Daya
Gerakan Beyond Waste mengusung gagasan sederhana namun berdampak besar: limbah makanan bukanlah akhir dari proses konsumsi, melainkan awal dari terbentuknya ekosistem berkelanjutan.
Melalui pendekatan circular economy, limbah organik yang selama ini dianggap tidak bernilai diolah kembali menjadi produk yang memiliki manfaat ekonomi, seperti pakan ternak dan pupuk organik.
General Manager Grand Mercure Malang Mirama, Sugito Adhi, menjelaskan bahwa industri perhotelan memiliki tantangan besar dalam pengelolaan limbah karena tingginya volume aktivitas operasional setiap hari.
“Setiap hotel pasti menghasilkan limbah dalam jumlah besar, baik limbah kering maupun basah. Melalui Beyond Waste, kami ingin belajar bersama bagaimana mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai, termasuk menjadi pakan ternak yang dapat membantu masyarakat sekaligus mengurangi biaya pengelolaan limbah,” ujarnya.
Menurut Sugito, manfaat program ini tidak hanya berhenti pada aspek lingkungan.
“Gerakan ini juga membuka wawasan baru mengenai peluang ekonomi yang lahir dari pengolahan limbah makanan. Jika dikelola secara serius, akan tercipta lapangan kerja baru bagi masyarakat, sekaligus mendorong kemandirian material bagi industri melalui pemanfaatan sumber daya yang selama ini terbuang,” katanya.
Ia menambahkan bahwa langkah tersebut juga berkontribusi dalam menekan emisi gas metana dari tumpukan sampah organik serta memperkuat implementasi prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) di sektor hospitality.
Komitmen ESG yang Diterapkan Secara Nyata
Komitmen keberlanjutan di Grand Mercure Malang Mirama tidak berhenti pada seminar dan kampanye.
Hotel ini telah menerapkan berbagai program pengelolaan limbah berbasis standar Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) yang mencakup pemilahan limbah makanan, pengolahan kompos, hingga daur ulang air limbah.
Sisa makanan yang masih bersih namun tidak layak konsumsi dipisahkan untuk diolah menjadi kompos dan bahan baku pakan ternak. Sementara itu, air limbah hasil proses tertentu diolah kembali sehingga dapat digunakan untuk menyiram taman dan area hijau hotel.
Selain itu, hotel juga menerapkan sistem pemanenan air hujan (rainwater harvesting) untuk mendukung kebutuhan lanskap dan area terbuka hijau.
Dalam pengelolaan limbah makanan, hotel melakukan pemisahan antara re-customer waste, yaitu limbah yang berasal dari proses produksi makanan di dapur, dan post-customer waste, yaitu sisa makanan yang ditinggalkan konsumen.
Melalui sistem tersebut, limbah organik yang masih memiliki kandungan nutrisi dapat dimanfaatkan kembali secara aman dan terukur.
Peran Perguruan Tinggi dalam Solusi Lingkungan
Dari sisi akademik, Wakil Rektor Unikama, Irma Tyasari S.E., S.Pd., M.M., Ak., CA., CPA., CRA., Ph.D, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan solusi nyata terhadap berbagai persoalan masyarakat, termasuk isu pengelolaan limbah.
Menurutnya, berbagai program pengabdian masyarakat yang dijalankan Unikama selama ini telah banyak berfokus pada pengembangan teknologi tepat guna yang mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Salah satu program yang sedang dikembangkan adalah pemanfaatan limbah ampas tahu dari pelaku UMKM sebagai bahan baku pakan ternak.
“Program ini tidak hanya bertujuan mengurangi limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar serta memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa melalui kolaborasi lintas disiplin ilmu,” ujarnya.
Saat ini Unikama juga tengah menyiapkan program kolaboratif “Small Livestock” yang melibatkan Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Peternakan, serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis untuk mengembangkan model ekonomi sirkular berbasis peternakan rakyat.
Limbah Makanan sebagai Pakan Ternak Bernilai Tinggi
Dalam sesi workshop, dosen Fakultas Peternakan Unikama, Dr. Ir. Tri Ida Wahyu Kustyorini, S.Pt., M.P., IPM., ASEAN Eng, menjelaskan bahwa limbah makanan dari hotel, restoran, maupun UMKM masih memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Melalui proses fermentasi menggunakan bioaktivator, limbah seperti sisa nasi, kulit buah, sayuran, hingga ampas tahu dapat diubah menjadi pakan alternatif yang aman dan bernilai ekonomi.
Menurutnya, teknologi ini tidak hanya membantu mengurangi volume sampah organik, tetapi juga mampu menekan ketergantungan peternak terhadap bahan baku pakan impor yang harganya terus meningkat.
“Dengan memanfaatkan limbah makanan lokal sebagai pakan ternak, kita dapat menciptakan sistem yang lebih mandiri sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Edukasi Lingkungan yang Realistis
Founder Local Preneur Indonesia, Eko Baskoro, menilai bahwa keberhasilan gerakan lingkungan sangat ditentukan oleh edukasi yang realistis dan mudah diterapkan.
Menurutnya, masyarakat tidak perlu dipaksa melakukan perubahan ekstrem yang sulit diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Edukasi yang tepat akan jauh lebih efektif dibandingkan sekadar mengikuti tren kampanye lingkungan tanpa mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa perubahan perilaku harus dilakukan secara bertahap, konsisten, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat maupun pelaku usaha.
Membangun Masa Depan Berkelanjutan
Kegiatan Beyond Waste diikuti oleh mahasiswa, pelaku UMKM, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa isu pengelolaan limbah kini tidak lagi dipandang semata sebagai persoalan lingkungan, melainkan juga sebagai peluang ekonomi baru.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, industri hospitality, pelaku usaha, dan masyarakat, Beyond Waste menjadi contoh nyata bagaimana konsep ekonomi sirkular dapat diterapkan secara praktis untuk menciptakan dampak yang lebih luas.
Lebih dari sekadar program pengurangan sampah, gerakan ini membawa pesan bahwa limbah yang selama ini dianggap sebagai beban dapat diubah menjadi aset yang menciptakan nilai ekonomi, membuka lapangan kerja, meningkatkan kemandirian material industri, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Dengan semangat “Building a Sustainable Future, One Waste at a Time”, Beyond Waste diharapkan menjadi model kolaborasi berkelanjutan yang dapat direplikasi oleh berbagai sektor di Indonesia menuju masa depan yang lebih hijau, tangguh, dan inklusif.
Related posts:
- Optimalisasi Peran Organisasi Kemahasiswaan Unikama Melalui Diseminasi Program Kerja
- Penguatan Kompetensi Calon Guru: PPG Unikama Deteksi Dini dan Intervensi Perundungan di Lingkungan Sekolah
- Kerja Sama Strategis: Membangun Fondasi Kolaborasi Akademik Lintas Negara
- 69 Tahun Unikama: Dari Parade Budaya hingga Festival UMKM Nusantara, Kebersamaan Menjadi Nafas Perayaan Dies Natalis


