Malang, Pakisaji – Di tengah gempuran ekonomi digital, banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di pelosok desa masih gamang beradaptasi. Namun, angin segar bertiup di Desa Glanggang, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Sebanyak 618 mahasiswa Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) yang diterjunkan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Integratif Berdampak 2026 ke beberapa wilayah yang ada di Kabupaten Malang, mereka hadir langsung menjadi jembatan bagi para warga masyarakat seperti halnya umkm, pedagang kaki lima, pengrajin kayu, gerabah, hingga produsen tempe untuk menapaki dunia digital.
Ketertinggalan akses teknologi dan minimnya pengetahuan pemasaran modern kerap menjadi penghambat utama perkembangan UMKM. Merespons hal tersebut, para mahasiswa KKN Unikama yang terjun langsung dilapangan merancang program pendampingan komprehensif yang tidak hanya berfokus pada penjualan, tetapi juga pembangunan fondasi legalitas usaha.
Bukan Sekadar Jualan Online, tapi Membangun Ekosistem Digital
Kegiatan pendampingan yang dilakukan di Desa Glanggang ini dilakukan secara bertahap dan terstruktur. Mahasiswa tidak sekadar mengajarkan cara membuat konten media sosial, tetapi memulai dari langkah paling dasar sekaligus krusial yaitu: penandaan lokasi usaha secara digital. Langkah ini memungkinkan para pelaku UMKM, yang selama ini mungkin hanya dikenal warga sekitar, kini dapat dengan mudah ditemukan oleh calon pelanggan melalui layanan peta digital seperti Google Maps.
Koordinator KKN di Desa Glanggang menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memberikan dampak berkelanjutan. “Kami fokus pada program yang memiliki manfaat nyata. Digitalisasi ini kami harapkan tidak berhenti saat KKN selesai, tetapi terus dijalankan oleh pelaku usaha,” ujarnya, mencontohkan semangat yang digaungkan oleh Rektor Unikama, Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si, saat pelepasan mahasiswa KKN.
Dari Google Maps Hingga NIB: Paket Lengkap Pendampingan
Proses pendampingan mencakup tiga pilar utama. Pertama, peningkatan visibilitas melalui pemetaan digital dan pembuatan banner serta logo. Hal ini bertujuan untuk memperjelas identitas usaha yang selama ini masih “abu-abu” di mata masyarakat umum. Kedua, perluasan akses pasar dengan mendaftarkan produk ke berbagai marketplace serta melatih pengelolaan konten promosi .
Pilar ketiga yang paling fundamental adalah pendampingan aspek legalitas melalui pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB). Mahasiswa membantu para pelaku UMKM memahami tahapan pendaftaran NIB yang kini dapat dilakukan secara gratis melalui sistem Online Single Submission (OSS). Kehadiran NIB bukan sekadar formalitas; ini adalah “tiket emas” bagi UMKM untuk mengakses permodalan dari perbankan (KUR), mengikuti tender pemerintah, serta mendapatkan kepastian hukum.
Salah satu penerima manfaat, Pak Dodik, pemilik usaha gerabah di Desa Glanggang, mengungkapkan rasa terbantunya dengan kehadiran mahasiswa KKN. “Jujur saya tidak mengerti mengenai penggunaan teknologi digital. Mereka membantu pembuatan desain, update media sosial, penandaan lokasi, dan pendaftaran NIB. Ya, Tentu sangat terbantu,” ungkapnya.

Bukan Sekadar Program, Ini Gerakan Kolaborasi
Kepala Kesejahteraan Rakyat (Kaur Kesra) Desa Glanggang, Pak Kasiono, turut mengapresiasi langkah mahasiswa Unikama. Menurutnya, kontribusi KKN tidak terbatas pada pengembangan UMKM, tetapi juga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan seperti kerja bakti, takziah, hingga kesuksesan pelaksanaan upacara 17 Agustusan.
Keberhasilan pendampingan ini sejalan dengan arahan pemerintah pusat yang tengah gencar mendorong digitalisasi UMKM. Menteri Perdagangan, Budi Santoso, bahkan baru-baru ini mengingatkan bahwa kepemilikan NIB akan menjadi keharusan bagi pelaku usaha yang berjualan di platform elektronik di masa depan. Dengan inisiatif seperti yang dilakukan KKN Unikama ini, para pelaku UMKM di Glanggang tidak hanya selamat dari gempuran digital, tetapi siap “naik kelas” dan bersaing di kancah yang lebih luas.
Melalui pendampingan intensif ini, KKN Unikama berharap para pelaku UMKM di Desa Glanggang dapat semakin mandiri, mampu memanfaatkan teknologi secara optimal, dan memiliki daya saing yang kuat di era ekonomi digital.


