Nilai kedewasaan dalam berpolitik dan sikap saling menghormati perbedaan tidak tumbuh secara instan, melainkan lahir dari kebiasaan menghargai kemajemukan sejak dini. Hal inilah yang ditekankan oleh Menko Kumham Imipas, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc. saat menyampaikan orasi kebangsaan di Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama). Dalam acara yang dihadiri oleh mahasiswa dan sivitas akademika tersebut, Prof. Yusril membagikan kisah personal yang sangat menarik tentang bagaimana dirinya tumbuh besar di tengah pusaran perbedaan pandangan yang tajam, namun tetap penuh dengan rasa hormat. Prof. Yusril mengenang masa kecilnya saat masih berusia sekitar 6 hingga 7 tahun. Kala itu, sang ayah merupakan seorang tokoh masyarakat dari partai politik Islam, Masyumi. Di sisi lain, lingkungan dan rumah mereka tetap terbuka bagi kedatangan tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang politik lain yang berbeda haluan.

Secara garis politik, para tokoh masa lalu tersebut kerap berada di kutub yang saling berseberangan. Namun, di dalam kehidupan sehari-hari, hubungan personal mereka justru berjalan sangat hangat dan kekeluargaan. Beliau menceritakan bagaimana para tokoh politik yang berbeda paham tersebut tetap bisa berkunjung silaturahmi dengan ramah, membawa buah tangan, bahkan persaudaraan antar-anak cucunya masih terjalin baik hingga hari ini meskipun orang tua mereka dulu berbeda haluan politik.
Bagi Prof. Yusril, pengalaman masa kecil tersebut memberikan pelajaran moral yang sangat berharga. Beliau menegaskan bahwa perbedaan argumen, prinsip, bahkan kompetisi dalam panggung politik, sama sekali tidak boleh merusak hubungan persaudaraan dan berubah menjadi permusuhan pribadi. Pesan mendalam yang dibawa oleh Menko Kumham Imipas terasa sangat pas dengan identitas Universitas PGRI Kanjuruhan Malang yang selama ini telah dikenal luas oleh masyarakat sebagai Kampus Multikultural.
Kampus ini menjadi rumah kedua bagi ribuan mahasiswa yang datang dari berbagai pelosok nusantara. Di sinilah miniatur Indonesia itu hidup, di mana mahasiswa dengan beragam latar belakang suku, ras, adat istiadat, agama, hingga pandangan organisasi, belajar duduk bersama di satu ruangan. Walaupun latar belakang agama dan pemikiran mahasiswanya berbeda-beda, semua disatukan oleh nilai etik yang sama, yaitu kejujuran, keadilan, kemanusiaan, dan komitmen menjaga kedamaian.

Di era digital saat ini, informasi bergerak sangat cepat dan sering memicu konflik sebelum fakta aslinya diverifikasi. Sebagai kampus multikultural, Unikama memegang peran strategis untuk mendidik mahasiswanya agar tidak mudah terprovokasi, melainkan menjadi warga negara yang mampu berargumen dengan cerdas tanpa perlu merendahkan orang lain. Melalui refleksi sejarah dan keteladanan para tokoh bangsa yang disampaikan oleh Prof. Yusril, kita semua kembali diingatkan akan pentingnya merawat persatuan. Perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 tidak akan bisa dicapai jika masyarakatnya mudah terpecah belah. Kisah masa kecil Prof. Yusril dan lingkungan kampus Unikama seolah menegaskan pesan yang sama kepada generasi muda bahwa berbeda pandangan dan latar belakang itu adalah hal yang niscaya, namun menjaga etik dan kerukunan adalah sebuah kewajiban.
Related posts:
- Perkuat Kualitas Global, FEB UNIKAMA Gelar Diskusi Ilmiah Bersama Pakar dari Universiti Teknikal Malaysia Melaka
- FH Unikama Gelar Workshop Pengembangan Kurikulum Berbasis OBE untuk Perkuat Kualitas Akademik
- Cultureverse 2026: Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Unikama Rayakan Keberagaman Budaya Dunia


