Aula Sarwakirti Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) dipenuhi antusiasme sivitas akademika dalam Orasi Kebangsaan yang digelar pada Selasa (7/7/2026). Mengusung tema demokrasi, supremasi hukum, dan kearifan lokal, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Prof. Yusril Ihza Mahendra, SH., M.Sc. tidak hanya berbicara mengenai konstitusi dan negara hukum. Ia justru membuka ruang yang lebih personal—mengenang perjalanan hidupnya dari sebuah pulau kecil di Bangka Belitung hingga menjadi salah satu pakar hukum tata negara Indonesia.
Di awal orasinya, Prof. Yusril mengaku merasa tema yang diangkat begitu dekat dengan perjalanan hidupnya. Berada di tengah sivitas akademika Unikama yang datang dari beragam latar belakang mengingatkannya pada lingkungan tempat ia dibesarkan, sebuah masyarakat yang sejak lama hidup dalam keberagaman. Dari sanalah, ia mulai membagikan kisah masa kecilnya di Bangka Belitung.
“Saya lahir dan tumbuh di lingkungan yang sangat majemuk,” kisahnya.
Ia menceritakan masa kecilnya di Bangka Belitung, wilayah yang dihuni masyarakat Melayu, Jawa, Madura, Sulawesi, hingga komunitas Tionghoa yang mencapai sekitar seperempat dari jumlah penduduk. Keberagaman itu bukan sekadar statistik, melainkan pengalaman sehari-hari yang membentuk karakter.

Sejak kecil, Prof. Yusril terbiasa menggunakan dua bahasa, yakni Melayu dan Mandarin. Ia juga tumbuh dalam budaya saling menghormati antar umat beragama dan antar etnis. Saat Idulfitri, keluarga saling mengirim makanan kepada tetangga berbeda keyakinan. Ketika Imlek tiba, tradisi saling berkunjung menjadi hal yang lumrah.
Pengalaman itulah yang menurutnya menjadi pelajaran pertama tentang demokrasi, toleransi, dan pentingnya mencari titik temu dalam setiap perbedaan.
Nasihat Sang Ayah yang Mengubah Jalan Hidup
Salah satu bagian yang paling menarik perhatian mahasiswa adalah cerita mengenai sosok ayahnya.
Prof. Yusril mengisahkan bahwa ayahnya merupakan aktivis Partai Masyumi. Meski aktif di dunia politik, sang ayah justru tidak mengarahkan putranya untuk mengambil jurusan ilmu politik saat kuliah.
Nasihat sederhana itu masih diingatnya hingga hari ini.
“Kalau kamu belajar politik, kamu tidak mengerti hukum. Tapi kalau kamu belajar hukum, kamu pasti ngerti politik.”
Kalimat tersebut menjadi penentu arah hidupnya.
Sang ayah percaya bahwa pemahaman hukum akan memberikan fondasi yang lebih kuat untuk memahami bagaimana negara dijalankan. Nasihat itu pula yang kemudian membawanya memilih Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Dalam perjalanan intelektualnya, Prof. Yusril juga banyak terinspirasi oleh tokoh-tokoh seperti Syafruddin Prawiranegara dan Mohammad Roem yang dikenal mengedepankan dialog, kompromi, serta kemampuan mencari jalan tengah di tengah perbedaan pandangan politik.
Pernah “Ciut” Saat Pertama Kali Menginjak Jakarta
Di balik karier panjang sebagai akademisi, menteri, hingga pakar hukum tata negara, Prof. Yusril mengaku pernah merasakan ketakutan yang mungkin juga dirasakan banyak mahasiswa baru.
Ia mengenang momen ketika pertama kali datang ke Jakarta untuk mengikuti tes masuk Universitas Indonesia.
Berasal dari pulau kecil, ibu kota terasa begitu besar dan asing. Melihat keramaian Jakarta, ia mengaku sempat merasa “ciut”. Perasaan minder dan tidak percaya diri sempat muncul karena harus bersaing dengan peserta dari berbagai daerah.
Namun, rasa takut itu tidak membuatnya menyerah.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa setiap orang besar pernah berada di titik yang sama: merasa kecil ketika memasuki lingkungan baru. Yang membedakan adalah keberanian untuk tetap melangkah.
Pesan itu terasa relevan bagi mahasiswa baru yang sedang memulai perjalanan akademiknya di perguruan tinggi.
Demokrasi Berawal dari Cara Kita Hidup Bersama
Beranjak dari kisah pribadinya, Prof. Yusril kemudian membawa audiens pada pembahasan mengenai demokrasi, supremasi hukum, dan sejarah konstitusi Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa bangsa Indonesia sejak awal dibangun melalui kompromi, bukan kemenangan satu kelompok atas kelompok lain. Perdebatan mengenai dasar negara pada 1945 menjadi contoh bagaimana para pendiri bangsa memilih jalan musyawarah demi menjaga persatuan.

Menurutnya, semangat mencari titik temu harus terus dijaga hingga hari ini, terlebih di tengah derasnya arus informasi digital yang sering memicu polarisasi.
Ia mengingatkan bahwa demokrasi bukan hanya soal pemilu, melainkan juga kemampuan masyarakat berdialog dengan sehat, menghargai perbedaan pendapat, serta tidak mudah menghakimi hanya berdasarkan potongan informasi di media sosial.
Prof. Yusril bahkan mencontohkan kedewasaan politik generasi terdahulu. Tokoh seperti Mohammad Natsir dan D.N. Aidit dapat berdebat keras di parlemen, tetapi tetap menjaga hubungan pribadi dengan baik di luar ruang sidang.
Hukum Harus Ditopang Etika
Dalam orasinya, Prof. Yusril juga menegaskan bahwa negara hukum tidak akan berjalan baik tanpa fondasi etika.
Ia mengulas perjalanan panjang reformasi hukum Indonesia, mulai dari penyusunan regulasi antikorupsi, pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hingga lahirnya Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.
Menurutnya, persoalan utama Indonesia saat ini bukan lagi kekurangan aturan hukum.
Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah membangun etika peradaban agar hukum benar-benar dijalankan dengan integritas.
Ia juga menjelaskan bahwa KUHP Nasional yang baru telah meninggalkan paradigma kolonial dengan mengakomodasi nilai-nilai hukum adat, hukum pidana Islam, hukum Belanda yang telah berasimilasi, serta berbagai konvensi internasional.
Optimisme Menuju Indonesia Emas 2045
Menutup orasi kebangsaannya, Prof. Yusril menyampaikan optimisme terhadap masa depan Indonesia.
Ia menilai Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan sumber daya alam dan posisi geografis yang strategis. Namun, generasi muda harus memperkuat penguasaan sains, manajemen, dan pemasaran agar potensi tersebut benar-benar menghasilkan kemajuan.

Prof. yusril juga mengingatkan pentingnya menjaga politik luar negeri bebas aktif sebagaimana filosofi Bung Hatta, “mendayung di antara dua karang”, agar Indonesia tetap mampu berdiri mandiri di tengah persaingan kekuatan global.
Bagi mahasiswa Unikama, orasi tersebut bukan hanya kuliah tentang hukum tata negara. Kisah seorang anak dari pulau kecil yang pernah merasa minder saat pertama kali menginjak Jakarta, tetapi kemudian mampu menembus panggung nasional, menjadi pesan paling kuat bahwa latar belakang bukanlah batas untuk meraih cita-cita.
Perjalanan Prof. Yusril menunjukkan bahwa keberanian belajar, keterbukaan terhadap keberagaman, dan kemauan memegang teguh nilai-nilai etika dapat menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam membangun Indonesia menuju 2045.
Related posts:
- Orasi Kebangsaan Prof. Yusril di Unikama, Meneguhkan Nilai Etik di Kampus Multikultural
- Unikama Teguhkan Komitmen Merawat Demokrasi melalui Orasi Kebangsaan Prof. Yusril dan Peresmian Pusat Kajian Konstitusi dan Demokrasi
- Perkuat Kualitas Global, FEB UNIKAMA Gelar Diskusi Ilmiah Bersama Pakar dari Universiti Teknikal Malaysia Melaka
- Cultureverse 2026: Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Unikama Rayakan Keberagaman Budaya Dunia


