Wadah Kreativitas dan Pembuktian Proses Mahasiswa PGSD & Pendidikan Geografi di Pergelaran CANDRIKA 2026

Ratusan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Geografi, serta kelas karyawan sukses menyelenggarakan pergelaran akbar Ujian Akhir Semester (UAS) bertajuk CANDRIKA (Cahaya Nada Tari Karya). Mengusung tema “Kilau Cahaya Mengiringi Langkah, Nada, dan Karya”, acara ini berlangsung meriah selama dua hari berturut-turut pada tanggal 15 hingga 16 Juli 2026. Tercatat sebanyak 170 mahasiswa berkolaborasi memamerkan hasil pembelajaran praktis mereka. Pagelaran ini bukan sekadar pemenuhan nilai akademis semata, melainkan menjadi panggung apresiasi atas proses panjang, kerja keras, dan dedikasi mahasiswa selama satu semester penuh.

Perumusan konsep dan tema ini pun merupakan hasil kesepakatan bersama seluruh elemen mahasiswa. Mengingat kepanitiaan dibentuk dari perwakilan setiap kelas bukan berpusat pada Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) seluruh pihak mulai dari mahasiswa reguler PGSD, Geografi, hingga kelas karyawan turut andil dalam pengambilan keputusan. Sinergi lintas prodi dan pembagian sesi stan keterlibatan berbagai elemen mahasiswa ini membawa warna tersendiri pada pergelaran CANDRIKA. Nabila Mayfiavanti selaku ketua pelaksana, memberikan rincian mengenai pembagian peran para peserta dalam acara ini. “Ada kelas karyawan juga yang ikut. Untuk kelas karyawan, mereka ikut dalam penampilan seni musik dan seni tari. Sedangkan untuk prodi Geografi, mereka mengikuti seni musik dan prakarya,” jelas Nabila mahasiswa PGSD angkatan 2024.

Mahasiswa PGSD dan Pendidikan Geografi yang Melaksanakan UAS Seni Musik.

Selama dua hari pelaksanaan, para pengunjung dan dosen pengampu disuguhkan dengan berbagai kreativitas yang mencakup tiga domain seni utama, yaitu seni musik, seni tari, dan prakarya. Dalam bidang seni musik, mahasiswa unjuk gigi dalam memainkan berbagai instrumen secara berkelompok, mulai dari pianika, gitar, bas, hingga drum. Sementara pada domain prakarya, mahasiswa menampilkan beragam hasil produk kerajinan tangan hingga olahan makanan kreatif yang estetik dan bernilai guna. Begitu juga seni tari, menampilkan berbagai tarian seperti drama tari, tari tradisional serta kotemporer.

Nabila mengungkapkan bahwa konsep “Candrika: Cahaya Nada, Tari, dan Karya” ini terinspirasi dari tema-tema yang dibawakan oleh kakak tingkat mereka pada tahun-tahun sebelumnya. “Cahaya itu melambangkan bahwa setiap mahasiswa dari prodi PGSD memiliki cahaya masing-masing, yang kemudian dirangkum dan disajikan dalam bentuk tari, nada dalam musik, serta karya yang telah disajikan hari ini,” tutur Nabila mengenai filosofi mendalam di balik tema tersebut.

Pertunjukan UAS Seni Tari mahasiswa PGSD 2024.

Di tengah gempuran teknologi modern, pelaksanaan UAS berbasis praktik ini memanen pujian dari jajaran dosen pengampu. Seni dinilai sebagai satu-satunya ranah otentik manusia yang tidak akan pernah bisa dimanipulasi secara instan oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
“Mata kuliah seni ini harus ada proses. Tidak bisa dikerjakan dalam satu malam dengan menggunakan AI. Oleh karena itu, saya mohon dua hari ini Anda betul-betul memperhatikan, betul-betul mencari makna,” ujar perwakilan Dosen Pengampu Prakarya SD, Bapak Pangestu, saat memberikan sambutan hangat. Senada dengan hal tersebut, Bapak Andika selaku Dosen Pengampu Seni Musik menambahkan bahwa keahlian olah rasa dan praktik fisik yang diperoleh mahasiswa akan menjadi bekal berharga jangka panjang. “Menariknya di seni ini tidak bisa melalui ChatGPT. Karena semuanya butuh proses,” tuturnya.

Stand Prakarya Mahasiswa PGSD Kelas B 2024.

Apresiasi dan harapan tinggi juga datang dari pihak program studi. Ketua Program Studi PGSD, Ibu Dr. Farida Nur Kumala, menaruh harapan besar agar pengalaman memproduksi karya secara berkelompok ini mampu melekat kuat pada diri mahasiswa, terutama saat mereka terjun langsung menjadi pendidik kelak.
“Semoga nanti teman-teman dari kegiatan ini bisa mengembangkan kreativitas dan juga inovasi serta kolaborasi. Serta pemikiran kalian nanti ketika menjadi guru SD, yang nantinya juga menjadi agent of change untuk mengubah karakter dan juga budaya kita,” pungkas Ibu Farida sekaligus membuka acara secara resmi.
Pesan mengenai pentingnya esensi proses ini juga ditegaskan kembali oleh Nabila di akhir wawancaranya. Mewakili jajaran panitia selaku ketua pelaksana, ia berharap acara ini tidak sekadar mengejar hasil akhir yang tampak di permukaan.
“Harapannya, acara ini tidak hanya menghasilkan output atau luaran yang luar biasa saja. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana proses kita bersama selama satu bulan ini dalam merangkai dan menyiapkan acara besar ini,” tutup Nabila. Dengan diadakannya pergelaran CANDRIKA 2026 ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya membawa pulang nilai akhir yang baik, tetapi juga rasa percaya diri, jiwa kolaboratif, serta kepedulian yang tinggi terhadap pelestarian budaya bangsa.

WhatsApp